RSS Feed
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

English

 

Visitor

Customer Service

Song of Birds

Yang dilupakan banyak orang

 
Kecerdasan pemimpin di era informasi (1)
(mengenang alm.Stephen R.Covey yang telah memberikan inspirasi dan memotivasi saya dalam mengajar dan melatih para pemimpin di Indonesia)

Ketika menghadiri acara pesta pernikahan, saya bertemu rekan lama, Sarah namanya. Dia menjadi rekan dalam Facebook. Menurut pengakuannya, dia membaca tulisan saya dalam website http://digitaleadership.biz Dia bertanya begini kepada saya :

"Mengapa nama websitenya pake digitaleadership ? Kenapa tidak Leadership saja...?" Untuk menjawab pertanyaan ini secara singkat dalam waktu yang singkat tidaklah mudah. Saya menjawab pertanyaan Sarah tersebut, begini :

"Memang tampaknya teori kepemimpinan semua hampir sama, namun saya menemukan hal yang lain (baru). Data yang saya kumpulkan menunjukkan fakta yang berbeda dengan teori yang saya pelajari......" Coba perhatikan beberapa realita di bawah ini, sebagai berikut:


"di Yogya ada seorang pimpinan Yayasan memecat guru lewat SMS....."
"Remaja berbuat mesum digrebeg polisi di Warnet...."
"Isu kerusuhan di Inggris dimobilisasi melalui SMS....."
"Di China ada seorang pemuda menjual ginjalnya hanya untuk membeli Ipad...."
"Teman saya tertipu membeli smartphone melalui media on line...."
"Obama menang karena dukungan membernya di FB dan Twitter...."
"SBY menang karena pencitraan melalui media massa....."
"PKS mencanangkan merebut 2 juta member baru melalui media jejaring sosial.... "
"Lalu apa hubungannya dengan Leadership....? tanya Sarah menyelidik. Saya berupaya untuk menjelaskan dengan bahasa sederhana.
"Esensi jiwa kepemimpinan itu ada dalam diri setiap orang,namun yang menjadi masalah tidak semua orang mengerti atau memanfaatkannya.Esensi jiwa kepemimpinan adalah memengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang kita inginkan. Namun banyak orang tidak siap memahami bagaimana menggunakan internet untuk kepentingan yang lebih mulia"
"Lalu apa yang perlu dipersiapkan oleh para Leader memasuki era informasi ini ?" tanya Sarah ingin tahu.
    Jawaban saya ini mengacu dari hasil riset Stephen Covey yang telah dipanggil Tuhan,karena kecelakaan. Selain itu saya juga sedang melakukan observasi memasuki tahun ke dua, berdasarkan teori dan observasi tersebut saya menjawab pertanyaan Sarah, sebagai berikut :


1. Kecerdasan membaca paradigma

    Salah satu ciri manusia di era informasi ini ialah mereka bekerja bukan dengan otot, tapi dengan otak. Oleh karena itu kebutuhan manusia untuk always connected melalui internet urgen setiap hari. Asumsi dibelakangnya siapa yang memiliki banyak informasi, dia dapat mempergunakannya untuk memengaruhi orang lain sesuai keinginannya.Ironinya banyak orang tidak memahami dengan benar adanya perubahan tersebut yang berdampak dalam perilakunya.
Sebaliknya pada era industri yang ditandai dengan dibangunnya banyak pabrik, manusia dipandang sebagai ‘barang' atau ‘benda' yang keberadaannya digantikan dengan nomer dan gaji setiap bulan. Pemimpin perlu cerdas melihat adanya perubahan paradigma dalam setiap era dan dimana dia berada. Untuk mengetahui indikasinya sangat mudah dicermati, dimana terjadi lonjakan pelanggan internet di kota,maka kemungkinan terjadi ‘banjir informasi' di daerah tsb. Informasi yang tidak dikelola secara benar dan arif akan memengaruhi cara pandang dan perilaku para pelanggannya. Internet sudah seperti ‘candu',khususnya bagi anak muda yang senang berjejaring sosial melalui FB dan Twitter.
    Tampaknya yang terjadi di Indonesia berbeda dengan di Barat,dimana masyarakat Indonesia berciri agraris-industri dan informasi. Dalam masyarakat agraris cara pandang (paradigma) terhadap manusia digambarkan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan keharmonian dengan alam dan sesama. Sebaliknya dalam era industri manusia dipandang sebagai ‘barang' atau ‘benda'.Perlakuan terhadap manusia sebagai ‘barang' berarti ‘menghilangkan' roh dan jiwanya. Hal ini berbeda perlakuan terhadap manusia di era informasi,dimana manusia dihargai karena kecerdasan otaknya (informasi yang dimilikinya).Penghargaan terhadap ‘otak' berlebihan bertendensi merendahkan peranan roh,jiwa dan tubuh.
Oleh karena itu pada masa kini urgen pemimpin memperlakukan bawahannya sebagai manusia secara utuh, sebab manusia memiliki roh,pikiran,hati/jiwa dan tubuh.

2.Kecerdasan ‘kebermaknaan'


     Permasalahan krusial manusia memasuki era informasi ialah krisis ‘kebermaknaan' hidup. Kekayaan dan kedudukan yang didapat tidak mampu ‘membahagiakannya', semakin kaya semakin ‘miskin kebermaknaan' hidup. Itu sebabnya Bill Gates dan Warren Buffett orang terkaya didunia ‘merasa bersalah', karena dia kaya tapi banyak orang hidup dalam kemiskinan. Mereka menyadari bahwa kekayaan tidak memberikan ‘makna' hidup baginya. Mereka berdua menjadi pelopor gerakan peduli terhadap masyarakat miskin di dunia ketiga. Buffett menginvestasikan 30 miliar dolar (2006) yang dipersembahkan untuk mengatasi masalah kesehatan,pendidikan dan kemajuan masyarakat melalui Bill and Melinda Foundation (B&M Foundation). Gates melepaskan kedudukannya sebagai CEO Microsoft dan memfokuskan pengabdian pada B&M Foundation. Gates menginvestasikan sebagian kekayaannya untuk riset dan kemajuan B&M Foundation.
   Banjir informasi yang diterima orang setiap hari melalui internet menjadikan informasi sebagai ‘sampah' yang tidak berguna. Tanpa kearifan dalam mengelola informasi,manusia dapat kehilangan ‘kebermaknaan' dirinya. Oleh karena itu kecerdasan mendasar yang diperlukan bagi pemimpin di era informasi ini ialah ‘kebermaknaan' hidup. Kecerdasan ‘kebermaknaan' hidup ini ada dalam ranah spiritual dan tidak didapat dari internet (informasi). Kebermaknaan hidup didapat melalui pertemuan antara manusia dengan pencipta-Nya. Manusia membutuhkan sentuhan rohnya, agar dia menemukan keberadannya di dunia ini ‘untuk apa dia hidup' dan memberi ‘makna hidup' bagi sesama.
Krisis kepemimpinan yang melanda Indonesia saat ini berakar dari krisis ‘kebermaknaan' hidup tsb. Banyak pemimpin menampakkan ‘kesalehan' beribadah, namun yang terjadi ‘kesalahan' mengorupsi kepercayaan rakyat dan uang negara. Selayaknya pemimpin yang cerdas, dia menyadari bahwa dirinya sudah menemukan ‘kebermaknaan' hidup dan ‘memberi kontribusi' memajukan hidup orang banyak.Pemimpin yang cerdas tidak dikuasai oleh jabatan struktural atau kekuasaan dunia ini, namun dia memberdayakan orang lain, agar mandiri dan siap menggantikannya.


3. Kecerdasan hati


    Krisis yang kedua yang dialami manusia dalam era informasi ini ialah kehilangan suara ‘hati nurani'. Definisi hati nurani (conscience ) menurut Oxford Dictionary ialah a person's moral sense of right and wrong . Artinya hati nurani ialah kesadaran moral manusia tentang mana yang ‘benar' dan mana yang ‘salah'. Ironinya pada masa kini banyak orang mulai kehilangan sense of right or wrong , hal ini bisa dimaklumi karena informasi yang dia baca setiap hari dianggap ‘benar'. Hal ini memengaruhi cara pandang dia - mengklaim dirinya ‘benar' dan orang lain dianggap ‘tidak benar'. Dalam bahasa Covey dipakai istilah ‘mau menang sendiri','egois' atau ‘mudah marah'.Padahal informasi dalam internet tidak semuanya benar, kita harus selektif terhadap setiap informasi yang kita terima. Kebenaran itu bukan ‘kata orang' atau ‘kebanyakan orang menerimanya'.
     Dalam era informasi ini dibutuhkan pemimpin yang memimpin dengan hati bukan dengan kekuasaan politik atau perintah. Setiap orang membutuhkan kasih sayang dan keteladanan. Pemimpin yang sejati,dia mengasihi orang lain tanpa membeda-bedakan suku,agama,ras dan antar golongan. Dia memandang orang yang dipimpinnya sebagai manusia utuh yang butuh kasih sayang seperti dirinya. Seperti seorang anak yang mendapatkan kasih sayang yang penuh dari ayah dan ibunya, maka dia akan tumbuh dengan percaya diri dan memiliki sense of right dan sense of respect terhadap sesama.Pemimpin memerlukan kecerdasan hati,karena manusia membutuhkan kasih sayang.

Kesimpulan

    Era informasi telah membawa dampak kepada perubahan cara pandang dan perilaku manusia.Ironinya perubahan paradigma tersebut tidak dimanfaatkan secara arif, sehingga yang muncul ke permukaan kecenderungan manusia yang egois dan tindak kekerasan yang merebak dalam masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan kecerdasan pemimpin yang tahu memberdayakan perubahan paradigma tersebut secara arif. Hal ini bisa terwujud kalau pemimpin memiliki hati untuk ‘hidup bermakna' bagi diri dan orang lain. Dengan demikian pemimpin sejati memberdayakan masyarakat, agar hidup mereka sejahtera lahir dan batin.

kaki Merapi, 23 Agustus 2012

Guno Tri Tjahjoko
http://digitaleadership.biz

 

Thu, 23 Aug 2012 @17:43


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+6+5

Copyright © 2017 Dooweek 083867404015 · All Rights Reserved