RSS Feed
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

English

 

Visitor

Customer Service

Song of Birds

Menembus Udara,Air dan Tanah

 

Sehabis memberikan training dari pedalaman Muara Bunyut,Kutai Barat,Kaltim saya memposting ke Facebook foto-foto kegiatan masyarakat di sekitar sungai Mahakam. Banyak respon dari rekan-rekan di Facebook dan salah satu rekan saya mengusulkan untuk menuliskan dalam Blog.Tulisan ini saya buat setelah tiga minggu meninggalkan pedalaman yang penuh kenangan indah. Di tengah sungai Mahakam terhampar air yang sangat luas dan tampak tenang,namun air yang tenang tersebut,justru sebaliknya. Bulan lalu terjadi kapal tenggelam di sungai Mahakam,karena menabrak kayu.Tenang tapi menghanyutkan,begitu kata pujangga puisi
Persiapan


Rencana saya memberikan training ke PT Trubaindo Coal Mining (TCM) sudah dua bulan yang lalu.Namun dalam suatu bisnis penundaan atau tidak jadi adalah hal yang wajar.Mungkin karena harga yang ditawarkan provider terlalu tinggi atau karyawan yang belum siap.Saya berpikir training ini tidak jadi,karena belum ada kabar yang jelas. Tidak lama kemudian Benny menelpon saya dan mengajak presentasi ke Jakarta. Tugas utama saya dalam presentasi ialah meyakinkan si bos, bahwa training ini bagus dan dibutuhkan oleh karyawan.Singkat kata, bos ternyata setuju. Lha wong, dia juga orang Yogya.Kami malah berteman baik sejak kenalan dengan si bos sampai hari ini.


Satu minggu sebelum berangkat


Karena saya sudah mengidap malaria,sejak tiga tahun lalu pasca penelitian di Kaltim,maka untuk memasuki daerah endemik saya harus minum pil kina setiap hari selama satu minggu. Selain itu untuk mengatasi malaria, agar tidak kambuh di pedalaman - saya membiasakan setiap hari olah raga. Kalau tubuh saya sehat, maka virus malaria tidak akan bangkit menyerang. Saya tidak tahu mengapa malaria tidak bisa disembuhkan (?).Selain itu saya juga mengkonsumsi vitamin C dan makan yang sehat.Saya harus pastikan masuk ke pedalaman dalam kondisi fisik yang prima, kalau tidak kemungkinan sakit akan terjadi.


Menembus udara
Minggu,14 Oktober 2012
Jam 17.30-18.00 WIB


Saya dijemput Benny dan Agus di rumah,lalu kami berangkat bersama ke Bandara Adisucipto.Tempat tinggal saya tidak jauh dari bandara hanya sekitar 10 menit. Setelah kami sampai di bandara,Benny mengurus semua administrasi dan saya hanya menunggu semua beres. Sementara itu Agus pulang ke rumah di Bantul. Sambil menunggu pesawat kami makan dan minum di Lounge Bandara yang sempit. Saya merasa tidak nyaman di ruangan yang sempit dan berdesakan. Mau ambil makan dan minum berdesak-desaan. Sungguh tidak nyaman bagi saya.Mestinya Lounge itu luas dan tempat untuk bersantai. Selain itu makanan yang disajikan kurang memuaskan lidah saya. Saya haya makan nasi goreng sedikit dan kue. Bayar Rp. 50 ribu terlalu mahal bagi saya. Namun apa boleh buat di bandara semua harga mahal, saya harus menerima apa adanya.


Pesawat Lion Air berangkat dari Bandara Adisucipto jam 18.00 WIB sampai di Balikpapan sekitar jam 21.00 WITA.Perjalanan dari Yogyakarta ke Balikpapan ditempuh 1,5 jam. Ada perbedaan waktu 1 jam antara Yogyakarta dengan Balikpapan. Perjalanan 1,5 jam saya manfaatkan untuk tidur di pesawat, karena saya kurang tidur.Sewaktu tidur seperti ada orang yang menyenggol tangan saya dua kali. Saya terbangun, ternyata sang pramugari yang menyenggol.Ya,mungkin karena lewat dan tidak sengaja saja.Ah,sudah saya mau tidur lagi.


Tidak lama kemudian Benny mencari taksi Bandara yang membawa kami ke Hotel di tengah kota Balikpapan. Di depan hotel ada 2 perempuan berdandan menor. Saya tidak tahu mereka sedang menunggu siapa (?).Yang jelas bukan menunggu kami. Petugas hotel mengantar kami memasuki kamar di lantai 5. Tampaknya hotel tua,katanya dulu ini hotel yang pertama di Balikpapan. Kalau di Yogyakarta,hotel ini seperti Hotel Garuda di Malioboro. Tampaknya hotel kurang perawatan dan hal ini terbukti peralatan kamar sudah usang. Kami hanya menginap semalam saja.


Menembus tanah
Senin,15 Oktober 2012
Jam 06.30-18.00 WITA


Setelah sarapan pagi yang lumayan enak, saya dan Benny menunggu sang penjemput di lobby.Tampaknya pak Budi menjemput ke bandara Sepinggan,padahal kami ada di hotel. Yang datang di bandara Sepinggan adalah si bos. Akhirnya pak Budi ke hotel dan menjemput kami menuju Kota Bangun.Perjalanan dari Balikpapan menuju Kota Bangun ditempuh sekitar 5 jam.


Udara Balikpapan pagi ini agak sejuk, jalan-jalan tampak bersih,karena baru hujan deras. Sepanjang jalan Balikpapan menuju Samarinda orang lalu lalang ke kantor. Balikpapan merupakan kota industri minyak dan gas. Semua perusahaan minyak dan gas besar ada disini. Pagi itu banyak karyawan yang bersiap menuju ke kantor.Tak terasa dua jam lebih kami keluar dari Balikpapan dan menuju arah Bukit Soeharto.
Sudah saatnya makan siang, kami mampir di tmah makan Amado. Kata pak Rudi soto Banjar disini enak sekali. Saya mengamati di depan rumah makan Amado ada sekitar 5 mobil dan kayaknya ada rombongan keluarga.Kami menunggu sekitar 15 menit, sambil pesan soto dan makanan tambahan. Hidangan pertama yang keluar tempe,tahu,sate dan ayam.Plus buah segar yang diiris kecil-kecil.Saya tidak kuat menahan lapar mencium bau sedap soto Banjar. Tidak lama kemudian pelayan membawa pesanan soto. Langsung saya santap dengan lahap. Soto Banjar itu bening,segar dan tidak banyak santan. Yang unik rasa kuahnya yang segar disertai lontongnya yang mantap. Tidak sampai 10 menit hidangan soto langsung habis.Tambah lagi sotonya dan kami terasa dipuaskan dengan makan siang hari ini. Pokoke maknyus.....


Perjalanan masih 3 jam lagi ke Kota Bangun, kali ini jalannya berkelok-kelok naik turun bukit.Saya masih ingat tahun 1987 saya pernah ke daerah ini,kondisi jalannya becek dan tidak bisa dilalui mobil. Jalanan hanya bisa dilalui oleh sepeda motor, itupun harus hati-hati karena jalan licin dan terjal. Sekarang jalanan sudah diaspal,tapi banyak yang lobang dan aspal tidak rata. Perut saya seperti dikocok-kocok,karena jalanan yang naik-turun.Kepala terasa pusing,namun karena saya duduk di depan, hal ini membantu saya untuk mengatasi rasa mual. Apalagi saya gampang tidur. Saya tidak peduli jalanan naik turun. Saya tertidur sekitar 2 jam. Tahu-tahu sudah sampai pelabuhan Kota Bangun sekitar jam 13.00.


Menembus air

13.00-17.50 WITA


Terakhir saya naik speedboat di teluk Ambon tahun 2000. Setelah puluhan tahun tidak naik speedboat,baru kali ini menyusuri sungai Mahakam selama 5 jam.Ada rasa ngeri dan takut,karena belum menguasai area sungai Mahakam. Hazirin nama driver speedboat tampaknya sudah punya Surat Ijin Mengemudi.Jadi saya agak lega juga, karena driver sudah berpengalaman.Setelah memindahkan barang dari mobil ke speedboat selesai,saatnya berangkat ke Muara Bunyut.Speedboat digas dan kami terasa terpelanting naik keatas.Sementara air di bawah muncrat kedalam.Asyik juga kayak naik kuda,hanya ini di sungai.Semakin speedboat digas,semakin kencang lari dan sauaranya memekakkan telinga.Udara siang itu cerah dan memungkinkan kami ke Muara Bunyut,sebab kalau udara tak cerah dan kondisi sungai pasang,maka driver tidak berani mengarungi sungai Mahakam.Selain itu ada kebijakan dari perusahaan yang melarang karyawan menyeberang sungai Mahakam sore hari.


Sepanjang sungai Mahakam saya menyaksikan rumah-rumah suku Kutai dipinggiran sungai. Ada toko apung,bus air,tongkang batubara dan para nelayan. Warna air sungai Mahakam coklat kental.Pada tahun 1987 waktu pertama kali saya ke Tenggarong, saya sempat melihat ikan pesut meloncat-loncat.Dalam perjalanan kali ini, saya berharap melihat ikan pesut lagi. Tapi menunggu sekitar 5 jam di speedboat, tengok kiri-kanan ternyata saya tidak melihat ikan pesut.


Tiba-tiba speedboat dimatikan di tengah sungai, saya kuatir ada apa-apa ?Saya lihat Hazirin dengan cekatan membelokkan speedboat ke kanan mengikuti gelombang tenang.Kejadian seperti ini tiga kali. Saya penasaran,mengapa speedboat dimatikan? Kalau speedboat dinyalakan, bisa terjungkal. Karena dibawah ada pusaran ombak yang harus diantisipasi dengan mematikan speedboat.
Selain itu banyak kayu-kayu kecil yang mengapung di sungai Mahakam.Tampaknya kayu kecil,tapi dibawah ada kayu besar yang bisa menenggelamkan speedboat.Driver harus menghindari tabrakan dengan kayu.Putar kekanan atau kekiri,agar terhindar dari tuburukan kayu.


Sekitar jam 17.50 WITA kami mendarat di pangkalan Muara Bunyut. Kami sempat berfoto sebentar.Akhirnya kami sampai di lokasi PT TCM.Kami disambut empat staf TCM dengan empat mobil.Tampaknya mereka menghormati staf yang datang dari Jakarta,karena mereka ini si bos. Suasana sudah mulai agak gelap, kami diantar ke Melak menuju tempat penginapan. Perjalanan dari site Muara Bunyut ke Melak sekitar 1 jam lagi. Tapi saya menikmati perjalanan ini. Suasana di site Muara Bunyut mulai agak sepi,karena karyawan pulang kantor jam 17.00.Jalanan di site berlumpur dan berdebu.Tekstur tanah liat yang digali kelihatan kecoklatan dan disana-sini berserakan batubara yang belum diolah. Suasana di pedalaman mulai terasa.Sepi dari rumah penduduk, tidak ada toko, tidak ada pom bensin,tidak ada rumah makan.Namun saya heran ada perkampungan,dimana disetiap rumah ada lampu warna-warni diluar.Kelap-kelip.Temanku bilang:"Ini Las Vegasnya,pak...." Apa maksudnya ? Saya belum paham apa kata teman saya tsb.


Akhir yang mengenyangkan


Olehkarena hari sudah gelap dan kami capai,maka kami diantar ke rumah makan di Melak. Wow....hidangannya luar biasa: udang galah sebesar tangan, ayam kampung,ikan patin, ikan sungai dan sayur segar. Terasa perjalanan yang melelahkan terobati.Saya hanya makan ikan dan sayur. Rasa ikan patin di Kaltim beda dengan di Jawa.Ikan patin disini lebih gurih dan kenyal,kalau di Jawa rasanya agak amis.Saya tidak tahu mengapa ada perbedaan,mungkin karena airnya beda. Setelah kenyang, kami diantar ke tempat penginapan. Tidak sabar saya untuk melanjutkan tidur lagi.Sebelum tidur seperti biasanya saya membersihkan ruangan dari gangguan roh-roh penjaga. Walau sempat diganggu pada tengah malam,namun saya bisa atasi.
Saya harus bangun pagi dan siap tempur untuk memberi training dua hari. Oh, kenangan perjalanan yang indah di pedalaman Kutai Barat.Suatu saat nanti saya akan kembali lagi.Semoga.

kaki Merapi, 9 November 2012
Guno Tri Tjahjoko

 

Fri, 9 Nov 2012 @16:42


2 Komentar
image

Wed, 21 Nov 2012 @15:05

masfer

sudah di yk pak juragan ?, ceritanya inspiratif & sedikit mengharukan... tapi koq makanannya enak-enak ya...heee..hee

image

Thu, 22 Nov 2012 @19:04

Ivone

Artikel yang menarik, bahasanya mudah dicerna, seperti sedang mengalaminya sendiri


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+6+4

Copyright © 2017 Dooweek 083867404015 · All Rights Reserved