RSS Feed
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

English

 

Visitor

Customer Service

Song of Birds

Solusi Pemikiran Alternatif ke 3 : Konflik Staf dan Pimpinan


Guno Tri Tjahjoko
http://digitaleadership.biz

Beberapa hari lalu saya mendapatkan informasi dari rekan di jejaring sosial, sebut saja namanya Ari. Ari nekat akan membakar diri,karena jabatan dia dipecat sebagai dekan akademis. Ari juga dilarang mengajar,padahal dia termasuk dosen yang disenangi mahasiswa.Tuntutan Ari sederhana : "Rektor harus mundur....!"
Konflik antara staf dengan pimpinan juga terjadi di kantor Adi. Adi mengeluh kepada saya dengan nada sendu :
"Bagaimana perusahaan akan maju,pak.....kalo pimpinan tidak mau tahu kebutuhan bawahan ?" "Pimpinan tidak mau mendengar saran dan usulan dari staf. Pimpinan merasa yang paling benar, semua yang dilakukan staf serba salah..."
"Posisi penting di perusahaan hanya diduduki oleh keluarga atau orang yang dekat dengan pimpinan. Kami tidak bisa masuk ke dalam posisi strategis,karena dianggap tidak layak"
Keluhan lain datang dari Ani, dia mengatakan : "Saya tidak tahan bekerja di perusahaan ini, karena para pemimpinnya munafik. Bagaimana saya bisa hormat pada pimpinan, kalau dia selingkuh. Saya mau mundur dan cari kerja di perusahaan lain...Saya tidak betah kerja disini...."
"Saya tidak tahan kerja disini...paling lama hanya 6 bulan, sistem penggajian disini tidak jelas...Karir juga tidak jelas. Karyawan yang bagus prestasinya tidak diberi apresiasi,malah dibiarkan keluar. Malahan saya bekerja diluar digaji tiga kali lipat..." kata Andi


Melawan atau Kabur ?


     Pengalaman Ari, Adi, Ani dan Andi tersebut mewakili ratusan ribu karyawan yang sering mengalami masalah dalam pekerjaan. Sikap Ari melawan kebijakan Rektor dengan aksi bakar diri.Tindakan Ari tersebut nekad dan tampaknya kurang dipertimbangkan dengan matang.Apakah dengan bakar diri, Rektor bisa mundur dan mengubah kebijakannya ? Sebaliknya sikap Ani cenderung untuk ‘kabur' dengan mundur dari pekerjaan secara diam-diam. Ani merasa tidak betah bekerja dalam lingkungan yang dianggapnya ‘munafik'. Ani merasa tidak nyaman dalam lingkungan yang tidak kondusif. Sementara itu Adi tidak bisa mengambil sikap dalam ketidakmenentuan karir dan masa depan. Adi lebih cenderung pasif dan menerima apa yang terjadi dalam perusahaan, sekalipun dia menggerutu dibelakang.
Tampaknya dalam perusahaan yang berorientasi profit dan lembaga non profit, ada gejala yang mirip. Dimana berkumpul orang, maka muncul kepentingan dan perebutan kedudukan atau kekuasaan.Dalam hal ini berlaku teori kekuasaan yang menjadi magnit bagi semua orang. Kekuasaan itu bisa berupa kedudukan,uang,fasilitas dan pengaruh. Semua orang berebut kekuasaan tersebut, dan mereka yang mendapatkannya akan memproteksi dengan menutup semua akses bagi orang lain diluar kelompoknya. Oleh karena itu tidak heran konflik antara staf dan pimpinan dalam perusahaan mencuat dan sering tidak tertangani. Dalam perusahaan keluarga yang berorienatsi profit,posisi penting diduduki orang yang dekat dengan pemilik perusahaan. Yang dialami oleh Ani dan Adi bisa terjadi dalam perusahaan keluarga.
   Tampaknya apa yang dialami oleh Ari tampak jelas adanya pengumpulan kekuasaan yang diproteksi oleh pihak Rektor. Ari dianggap orang yang kritis, karena sering mengritik kebijakan Rektor. Ari dianggap membahayakan wibawa dan kedudukan Rektor,maka semua posisi Ari dicopot. Ada kemungkinan apa yang dialami oleh Andi - dia bekerja pada perusahaan yang pemiliknya mantan militer.Pada umumnya mantan militer mengelola perusahaan secara disiplin dan menuntut ketaatan pada atasan, namun mereka digaji kecil. Karyawan dikondisikan untuk saling bersaing, siapa yang menang dia yang unggul. Mereka yang unggul dan loyal inilah yang terus dipertahankan diperusahaan. Staf yang pintar dan kritis dikondisikan untuk tidak betah dan dia akan keluar dengan sendirinya.Dalam perusahaan seperti ini tidak boleh ada orang yang lebih pintar dari pimpinan. Artinya pimpinan harus paling pintar, tahu segalanya dan tidak boleh dikritik atau disaingi oleh staf.


Sikap sebagai pimpinan


     Sikap yang arif yang perlu diterapkan oleh pemimpin dalam menghadapi empat kasus tersebut, sebagai berikut:
Pertama,luangkan waktu untuk mendengar keluhan dengan empati. Setiap keluhan atau kritik terhadap atasan dibaliknya tentu ada kebutuhan yang mestinya dipenuhi oleh pimpinan. Kasus Ari, dia membutuhkan aktualisasi diri. Dengarkanlah saran dan kritiknya yang membangun.Adi membutuhkan perhatian dan kejelasan karir. Ani membutuhkan keteladanan dan suasana kantor yang nyaman.Andi membutuhkan penghargaan prestasi yang selayaknya dia terima.
Kedua,menempatkan diri dalam posisi staf. Panggillah bawahan anda tersebut dan ajaklah bicara dari hati ke hati.Sambil makan siang bersama, anda dapat mengorek keluhan staf.Biarkanlah mereka menyampaikan saran dan masukan untuk perbaikan perusahaan.Anda sebagai atasan hanya mendengarkan masukan mereka.
Ketiga,mencari sinergi. Tugas anda sebagai pimpinan adalah mencari potensi yang unggul dari staf dan mensinergikan untuk kemajuan perusahaan. Ari berpotensi kritis,kreatif dan inovatif - manfaatkanlah keahliannya dalam bidang penelitian dan pengembangan perguruan tinggi atau perusahaan.Adi berpotensi sebagai manajer yang disiplin dan orang yang loyal terhadap atasan. Ani adalah orang yang suka keindahan dan harmoni. Andi orang yang cerdas, kritis dan suka tantangan.Andi memerlukan apresiasi atas prestasi dan karyanya secara layak.


Sikap sebagai staf


     Bila anda sebagai staf, sikap yang selayaknya anda terapkan dalam menghadapi konflik dengan atasan, sebagai berikut :
Pertama,nyatakan keluhan anda apa adanya,tapi dengan sikap yang sopan. Sikap respek dan sopan akan berdampak atasan anda mau mendengar keluhan anda. Cara penyampaian yang kasar dapat menyebabkan respon yang kurang baik.Oleh karena itu datangilah pimpinan anda di kantor dan mintalah waktu, agar anda dapat menceritakan masalah yang anda sedang hadapi.
Kedua, merumuskan masalah secara jelas. Dalam konteks alternatif pemikiran ke 3 diperlukan kesadaran bahwa masalah yang sedang dihadapi bukan hanya oleh staf saja, melainkan pimpinan juga membutuhkan pemahaman masalah dengan bahasa yang sama.Artinya staf hendaknya juga memiliki empati dengan menempatkan diri sebagai ‘pimpinan' dalam rangka memahami apa yang dirasakan olehnya. Dengan adanya pemahaman yang sama dan rumusan masalah yang jelas,maka munculnya mentalitas ‘win-win'. Artinya baik staf atau pimpinan diuntungkan dan tidak ada yang dirugikan, karena masalah yang sedang dihadapi oleh staf mendatangkan keuntungan bagi pimpinan dalam rangka memajukan perusahaan atau lembaga.
Ketiga,ciptakan sinergi. Sinergi dapat terwujud kalau ada pemahaman yang sama antara staf dan pimpinan. Bersinergi artinya kita mencari solusi yang lebih baik yang belum pernah kita pikirkan sebelumnya. Dengan demikian sikap staf yang arif dia juga ikut berpikir dengan alternatif ke 3.Bukan hanya sekedar menuntut ‘ini-itu',malainkan dia juga aktif memahami dan menempatkan diri diposisi 'pimpinan' yang dikritisinya.


Kesimpulan


    Untuk mendapatkan cara berpikir alternatif ke 3,kita memerlukan mentalitas ‘win-win'. Mentalitas ‘win win' ini menjadi fondasi yang kuat bagi terwujudnya relasi yang harmonis. Oleh karena itu tidak cukup hanya bermentalitas ‘win win', diperlukan juga sikap empati dengan cara mau mendengarkan orang lain.Dengan adanya sikap mau mendengarkan orang lain,maka arogansi pemimpin akan terkikis.Sebaliknya terjadi relasi yang ‘cair' antara staf dan pimpinan yang dapat menghasilkan solusi besar berupa program konkret yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

kaki Merapi, 23 April 2013

 

Tue, 23 Apr 2013 @20:55


2 Komentar
image

Tue, 23 Apr 2013 @22:12

David Taher

Klo atasan mah selalu merasa benar sendiri pak. Jarang atasan bahkan pemilik perusahaan mau mendengarkan. Biasanya bawahan yg vokal pasti dibuang.

image

Wed, 24 Apr 2013 @10:38

Guno Tri Tjahjoko

Dear David,
Itu sebabnya banyak perusahaan sulit maju,karena tidak memberdayakan staf dengan maksimal.Sebaliknya staf cari aman dengan diam dan mengikuti arahan atasan saja.

salam sukses


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 9+0+7

Copyright © 2017 Dooweek 083867404015 · All Rights Reserved