RSS Feed
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

English

 

Visitor

Customer Service

Song of Birds

Politik Tiki-Taka

     Messi hanya bisa tersenyum ketika Luis Enrique menjulukinya :"Dia (Messi) dari planet lain". Kemahirannya memainkan bola-bola pendek dan mengoper bola tidak diragukan lagi. Tendangan kaki kirinya yang tidak terduga sering mengecoh kiper untuk terpaksa memungut bola dari gawang. Kejeniusan Messi diakui juga oleh mantan pelatihnya Guardiola. Menurut Guardiola saat ini tidak ada pelatih sepakbola dunia yang mampu menghentikan lajunya Messi. Hal ini terbukti ketika strategi yang diterapkan Guardiola untuk menekan Barca pada laga pertama di Nou Camp (7 Mei 2015) tidak mampu membendung trio Barca yang merengsek gawang Munchen.

 
    Strategi tika taka yang diterapkan Barca ketika mengalahkan Munchen, tampaknya tepat dengan postur tubuh Messi,Neymar dan Suarez yang relatif pendek dibanding pemain Munchen yang berpostur tinggi. Sebab dalam strategi tiki taka dibutuhkan kelincahan dan kelenturan tubuh untuk mengecoh lawan. Penerapan strategi tiki taka juga memerlukan soliditas dan kerjasama tim, agar gol dicetak sebanyak mungkin. Artinya ego pribadi masing-masing pemain harus ditekan sedemikian rupa dan mengedepankan kesatuan tim untuk menang.


    Strategi tiki taka ini tampaknya kurang tepat diterapkan secara baik oleh elit politik, ketika elit terancam oleh regulasi tidak bisa ikut Pilkada, karena adanya konflik internal parpol. Mereka bermain tiki taka dengan menggunakan kekuasaan untuk merevisi UU Partai Politik dan UU Pilkada yang baru disahkan dan belum diterapkan. Kalau elit politik menyadari dan menerapkan strategi tiki taka dengan benar, maka penggunaan kekuasaan untuk mencari solusi atas konflik internal parpol bukan solusi yang tepat. Seyogianya para elit politik mulai belajar dari Messi dengan tiki takanya, sebagai berikut :


    Pertama, bermain dengan bola-bola pendek untuk mencetak gol. Messi tidak egois untuk menendang bola ke gawang lawan, sekalipun hal itu bisa dia lakukan.Melainkan dia mengoper bola kepada Neymar yang berdiri bebas untuk menendang bola masuk ke gawang Neuer - yang katanya kiper terbaik di dunia. Artinya fokus (gol) elit ialah mensejahterakan rakyat, bukan menendang bola untuk kepentingannya sendiri atau parpol. Secara politis, para elit hendaknya sadar bahwa dirinya adalah seorang negarawan atau abdi negara yang bukan hanya memperjuangkan kelompok atau partai an sich. Tetapi lebih dari itu elit memiliki tanggung jawab politik untuk mewujudkan stabilitas politik yang berdampak pada terwujudnya kesejahteraan rakyat. Penyalahgunaan kekuasaan dapat menimbulkan ketidakpercayaan rakyat terhadap para elit. Sayangnya di negeri ini belum ada regulasi yang mengatur rakyat berhak merecall elit yang tidak amanah. Semua aspirasi disalurkan melalui parpol, yang cenderung dikuasai oleh elit tertentu.


    Ke dua, strategi ofensif dan defensif. Ketika tika taka diterapkan, maka semua pemain sadar target mereka adalah menguasai lawan dan mencetak gol sebanyak mungkin. Namun pelatih juga sadar bahwa kelemahan tiki taka adalah dalam pertahanan. Oleh karena itu Enrique sebagai pelatih menempatkan Pique,Rakitic dan Busquets di barisan pertahanan, agar Barca tidak mudah kebobolan. Maknanya secara politis, hendaknya para elit tidak hanya saling menyerang dan menjelekkan elit lain atau Pemerintah. Sebaliknya bangunlah suatu kedewasaan sebagai negarawan dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau parpol. Hendaknya sekat-sekat KMP dan KIH sudah harus ditanggalkan, sebaliknya elit mulai menanamkan dalam diri sebagai seorang yang demokrat. Sebagai seorang yang demokrat ditandai dengan adanya nilai-nilai menghormati perbedaan,kesetaraan,imparsial dan profesional. Dengan kata lain, elit yang menerapkan strategi tiki taka secara benar, maka tujuan utama untuk membawa masyarakat sejahtera lahir dan batin akan menjadi fokus dan prioritasnya.


    Ke tiga, tiki taka enak ditonton. Menyaksikan operan bola dari Iniesta ke Messi, lalu ke Suarez dan Neymar secara apik membuat kita yang menontonnya enak dan bersemangat mengikuti ritme permainan. Demikian juga jika para elit politik bersikap low profile, saling menghargai dan meninggalkan arogansi diri atau kelompok, maka kita sebagai masyarakat yang menontonnya akan merasa diayomi dan serasa aspirasi kita terwakili. Masyarakat sudah bosan dengan konflik internal parpol yang bisa mengancam proses demokratisasi di Indonesia. Pilkada yang merupakan batu uji proses demokrasi di ranah Provinsi dan Kabupaten/Kota bisa terancam gagal, kalau elit tidak dewasa dalam berpolitik. Selain itu masyarakat berhak mendapatkan pendidikan politik yang matang dan dewasa. Sesungguhnya yang memberikan amanah adalah rakyat, artinya para elit ini hanya pelaksana amanah rakyat. Tidak bisa mereka seenaknya merevisi UU yang berdampak pada kegaduhan politik Nasional yang berimbas pada instabilitas ekonomi.


   Oleh karena itu sudah selayaknya para elit ini belajar untuk mengutamakan kepentingan rakyat demi tegaknya nilai keadilan dan kepatutan - yang seharusnya diutamakan dalam berbangsa dan bernegara. Semoga elit mampu bermain ala tiki taka yang dapat mendewasakannya dalam berbangsa dan bernegara. Dan Messi pun terus tersenyum dan pantang menyerah menaklukkan lawan.(Dr.Guno Tri Tjahjoko,MA)

Sat, 13 Jun 2015 @10:38


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+0+4

Copyright © 2017 Dooweek 083867404015 · All Rights Reserved