RSS Feed
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

English

 

Visitor

Customer Service

Song of Birds

Politik Tempe dalam Pilkada

     
     Menurut asal-usulnya tempe memang berasal dari Jawa (Yogyakarta dan Surakarta), hal ini tampak dalam Serat Centhini yang ditulis pada abad ke 16. Dalam surat Centhini tersebut ditemukan kata tempe untuk hidangan sehari-hari,misalnya: jae santen tempe dan kedhele tempe srundengan. Oleh karena tempe sudah menjadi makanan sehari-hari di Jawa, maka tidak lengkap kalau belum makan tempe dalam satu hari. Namun banyak orang belum tahu rumitnya dan lamanya pembuatan tempe.Pembuatan tempe membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari dengan melalui sembilan tahapan, yakni : pencucian kedelai,merebus kedelai,merendam kedelai,merendam kedelai yang sudah mengelupas,penyaringan, peragian,pembungkusan,pemeraman dan memberi udara bebas.


      Seperti halnya pembuatan tempe yang rumit dan memerlukan kesabaran - untuk mencari Kepala Daerah yang berintegritas juga dibutuhkan kecermatan. Dengan dihapuskannya tahapan uji publik dalam UU No.8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur,Bupati dan Walikota,maka hak-hak rakyat untuk mengetahui dan menentukan Kepala Daerah tereliminasi. Rakyat selaku pemilik kedaulatan rakyat seolah pasrah menyerahkannya kepada elit parpol.


     Hal ini terbukti dalam tahap pencalonan perseorangan (Juni-Juli 2015) sampai hari ini di Bantul dan Sleman belum ada yang mendaftar. Sementara itu di Gunungkidul ada indikasi calon perseorangan yang akan mendaftar hanya satu orang. Padahal yang mendeklarasikan diri dan memasang baliho lebih dari satu orang. Dengan minimnya calon perseorangan yang mendaftar dalam Pilkada di DIY - hal ini mengindikasikan adanya krisis kepemimpinan. Idealnya calon Kepala Daerah muncul dari masyarakat atau dia yang didukung oleh masyarakat. Hal ini menegaskan pendapat penulis bahwa menguatnya oligarkhi partai politik telah ‘memasung' aspirasi masyarakat.


    Belajar dari proses pembuatan tempe tersebut diatas, maka masyarakat bisa berperan aktif menentukan Kepala Daerah dengan prinsip-prinsip, sebagai berikut: pertama, pilihlah pemimpin yang bersih. Tahap pertama pembuatan tempe dimulai dengan pembersihan kedelai dan memisahkan dari kotoran. Pilihan kedelai yang bagus (besar) akan menentukan kualitas tempe yang akan dihasilkan. Kepala Daerah yang berintegritas hendaknya telah dibersihkan dari tindak korupsi,kolusi dan nepotisme. Dia harus bersih dari pelanggaran hak asasi manusia dan tidak mewarisi dosa rejim masa lalu. Pemimpin yang bersih tersebut memunculkan elektabilitas dan pengaruh yang besar dalam masyarakat.


     Ke dua, teruji menghadapi gejolak zaman.Tahap ke dua pembuatan tempe ialah merebus kedelai selama empat jam. Tujuan merebus kedelai lama tersebut ialah mematikan bakteri dan kedelai aman dikonsumsi. Seorang Kepala Daerah yang berintegritas, dia telah mengalami ujian zaman dan mampu menghadapi jaman yang terus berubah. Dia mampu membaca paradigma jaman dan mengelolanya secara arif dalam tindakan konkret. Selain itu dia tidak ‘gila hormat','gila uang' atau kedudukan. 
Ke tiga, rendah hati.

    Tahap ke tiga pembuatan tempe ialah dengan merendam kedelai yang teleh direbus tersebut selama satu malam. Perendaman kedelai dimaksudkan untuk melepas kulit kedelai, agar bisa dibuat tempe. Kerendahan hati Kepala Daerah diwujudkan dengan melepaskan semua kepentingan pribadi, kelompok dan parpol. Sesungguhnya hidupnya diabdikan untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat lahir dan batin. Dia tidak akan bisa tidur, kalau ada masyarakatnya yang masih kekurangan makan dan hidup di bawah bayang-bayang kemiskinan.


    Ke empat, menerima tanggung jawab dengan ikhlas. Tahap ke empat pembuatan tempe ialah merendam kedelai yang sudah terkelupas selama lima belas menit. Tujuan perendaman kedelai ini untuk membuang kotoran dan mematikan bakteri. Sebagai Kepala Daerah, dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah kehidupan dan pekerjaan yang dihadapinya. Dia pro aktif menerima tanggungjawab sebagai amanah dengan tulus dan ikhlas


   Ke lima,mandiri. Tahap ke lima pembuatan tempe ialah menyaring kedelai dan memisahkan dengan kotoran. Kedelai disaring dengan air panas, agar benar-benar bersih dan bebas bakteri. Sebagai Kepala Daerah, dia memiliki sikap mandiri dalam cara berfikir dan bertindak. Dia mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri, tanpa dipengaruhi oleh orang lain atau lingkungannya.


    Ke enam, mampu mengendalikan emosi. Tahap ke enam dalam pembuatan tempe ialah manaburkan ragi di atas kedelai yang telah disaring. Komposisi ragi dibanding kedelai paling banyak dua prosen. Ragi ditabur merata diatas kedelai yang telah bersih.Proses peragian yang salah bisa membatalkan pembuatan tempe. Perlu diperhatikan suhu kedelai dan takaran yang tepat dan merata. Kepala Daerah yang berintegritas, dia mampu mengendalikan emosi dan hal ini terbukti ketika dia menghadapi situasi yang membuat frustrasi, depresi atau stres, namun dia tetap tenang dan melakukan tindakan positif atau konstruktif .


   Ke tujuh, berorientasi tujuan. Tahap ketujuh pembuatan tempe ialah pembungkusan kedelai yang telah diragi tersebut. Pembungkusan menggunakan daun pisang akan menghasilkan tempe dengan ragi yang bagus dibanding dengan bungkus plastik. Kepala Daerah yang berintegritas mampu merumuskan tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar. Dia berupaya mencapai tujuan yang bermuara terwujudnya kesejahteraan masyarakat lahir dan batin.


   Ke delapan, berorientasi keluar (ekstrovert.) Tahap ke delapan kedelai yang sudah dibungkus tersebut, kemudian dieramkan atau disimpan selama satu hari, agar keesokan hari sudah siap disantap atau dijual ke pasar. Kepala Daerah yang berintegritas tidak grusa-grusu, namun dengan sikap tenang menghadapi berbagai masalah. Dia respek terhadap orang lain, empati terhadap orang lain dan memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungan. Selain itu dia bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya. Dia merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain. Dia tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan.


   Ke sembilan, memberi harapan masa depan. Tahap ke sembilan, kedelai yang dibungkus dan disimpan tersebut, dibuka dan dijemur atau diangin-anginkan. Sampai tahap ini, tempe yang berkualitas sudah jadi dan siap untuk disantap. Hendaknya Kepala Daerah yang berintegritas mampu memberi harapan hidup yang lebih baik terhadap orang yang dipimpinnya. Dia bukan mengobral janji, sebaliknya dia membuktikan dirinya menjadi problem solvers. Semoga masyarakat mampu menentukan Kepala Daerah yang sehat seperti halnya mereka sehat, karena makan tempe (Dr.Guno Tri Tjahjoko,MA)

 

artikel ini telah disampaikan dan dikembangkan dalam Launching Pilkada 2015 Balikpapan,9 Juni 2015

Thu, 18 Jun 2015 @14:54


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+5+7

Copyright © 2017 Dooweek 083867404015 · All Rights Reserved