RSS Feed
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

English

 

Visitor

Customer Service

Song of Birds

NEM Tinggi Bukan Jaminan Sukses

 

Setiap tahun ajaran baru banyak orang tua di DIY merasa cemas,karena anaknya tidak mendapatkan Nilai Evaluasi Murni (NEM) yang tinggi. Karena kalau si anak tidak mendapatkan NEM yang tinggi, maka dia tidak akan mendapatkan Sekolah yang bagus di Yogyakarta. Kalau sang anak tidak mendapatkan Sekolah yang bagus,maka dia tidak akan sukses dalam mencari pekerjaan.

    Persepsi tentang NEM yang tinggi identik dengan mendapatkan Sekolah yang bagus telah menjadi ‘penjara' bagi anak dan orang tua. Sang anak yang tidak mampu meraih NEM tinggi akan merasa rendah diri dan merasa bersalah,karena tidak keren kalau tidak sekolah di Yogyakarta. Sebagai dampaknya sang anak melampiaskan kesedihannya dengan melakukan tindakan yang kurang produktif.


     Oleh karena itu perlu dilakukan proses pelurusan dan penyadaran baik kepada guru,orang tua dan anak tentang pentingnya nilai-nilai kebebasan dan kompetensi sebagai pilar pendidikan. Untuk membebaskan siswa dan orang tua dari ‘penjara' NEM,maka diperlukan tiga keyakinan yang mendukung dua pilar tersebut, yakni:
     Pertama, NEM tidak identik dengan kecerdasan siswa. Harus dipahami bersama bahwa NEM tidak identik dengan kecerdasan anak. Hal ini selaras dengan pikiran Howard Gardner yang menteorikan bahwa kecerdasan bukanlah tunggal, melainkan majemuk. Menurut Gadner kecerdasan meliputi tujuh kriteria, yakni : musik, gerakan badan,logika matematika,linguistik,ruang,antar pribadi dan intra pribadi. NEM hanya mewakili empat kecerdasan dan tidak meliputi kecerdasan sosial atau antar pribadi. Artinya seorang siswa yang Matematikanya jelek - tidaklah dia harus minder, mungkin dia memiliki kecerdasan antar dan intra priadi yang bagus.

    Itu sebabnya seorang siswa yang memiliki nilai Matematika tinggi belum tentu dia sukses dalam bekerja atau dalam bersosialisasi. Kekurangan pendidikan di Indonesia ialah memaksakan seorang siswa harus menguasai dan memiliki nilai yang bagus di bidang Matematika,Bahasa Indonesia,IPA dan Bahasa Inggris. Padahal NEM tidak mengakomodasi kecerdasan musik (seni),olah raga dan relasi antar pribadi dan kecerdasan lainnya. Oleh karena itu para pendidik yang paham terhadap esensi pendidikan tidak menilai siswa dari NEM sebagai tolok ukur, bahkan untuk masuk ke UGM - NEM tidak dijadikan acuan. Pada tataran pendidikan tingkat atas (SMA dan Perguruan Tinggi), memang diperlukan kecerdasan memecahkan masalah, dimana siswa perlu dieksplorasi karakter dan ketrampilannya melalui memecahkan masalah.


     Kedua, siswa bebas memilih Sekolah. Yang lebih ironi lagi di Yogyakarta diberlakukan kuota bagi siswa dari luar Yogyakarta. Dalam hal ini telah terjadi ‘pembedaan' bagi siswa dan orang tua yang berdomisili di luar Yogyakarta. Mereka berlomba-lomba memindahkan Kartu Keluarga atau sekedar menitipkan anaknya di kota Yogyakarta. Esensi pendidikan itu membebaskan anak untuk mengeksplorasi ilmu, menemukan bakat dan pengetahuan baru. Sistem kuota yang diterapkan dengan alasan karena adanya Otonomi Daerah - secara esensi bertentangan dengan UUD 1945,pasal 31, ayat 1,dimana setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Dengan demikian Pemda Yogyakarta melalui Perda yang mengatur kuota pendidikan tersebut bertentangan dengan UUD 1945 yang seharusnya dibatalkan demi hukum.

     Implikasi dari penerapan kuota ialah adanya ‘pembedaan' dan pelebelan kepada siswa yang berasal luar Yogyakarta. Hal ini bertentangan dengan semangat demokrasi yang mengutamakan penghargaan dan kesetaraan terhadap kepelbagaian suku,agama,ras dan antar golongan. Dengan kata lain masyarakat DIY perlu kritis dan mengajukan judicial review untuk menggugat Perda yang membeda siswa yang bertentangan dengan UUD 1945 dan hak asasi manusia.


     Ketiga, ujian penerimaan pada kompetensi pribadi siswa. Idealnya seleksi penerimaan siswa baru bukan berdasarkan NEM saja, melainkan pada knowledge,skills dan attitude (kompetensi). Untuk menguji knowledge sudah cukup melalui hasil NEM atau evaluasi harian Sekolah. Sedangkan untuk menguji skills diperlukan wawancara dan observasi mendalam terhadap kepribadian anak. Hal ini membutuhkan waktu dan pendekatan yang komprehensif baik secara psikologi,sosiologi dan kepemimpinan.

    Tujuan pendekatan ujian yang komprehensif diharapkan menghasilkan siswa yang berkarakter dan berintegritas. Sedangkan untuk menguji attitude diperlukan psikotes, wawancara,simulasi dan kalu bisa melalui karya nyata seperti siswa aktif dalam pramuka,karang taruna,karya nyata di desa dll. Kiranya para siswa dan orang tua optimis dan menemukan kompetensi anak bukan mencari Sekolah yang bagus (Dr. Guno Tri Tjahjoko,MA)

Mon, 20 Jul 2015 @11:58


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+7+3

Copyright © 2017 Dooweek 083867404015 · All Rights Reserved