RSS Feed
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

English

 

Visitor

Customer Service

Song of Birds

Mukidi dan Politik Tertawa

image

 

Munah : “Bagaimana mas, dapat jatah menteri apa… ?”

Mukidi : “Menpora….” jawabnya sekenanya

Spontan Munah sujud syukur, bangga dan senang, karena selama ini hanya dipanggil Bu Muk, kelak akan dipanggil Bu Menteri. Melihat isterinya sujud syukur, Mukidi heran dan jengkel,karena Munah dianggap tidak mengerti,

Mukidi: “ Munah sayang…kenapa kamu kegirangan dan sujud syukur …?”

Munah : “Lho…..kan mas Mukidi menjadi Menpora….”

Mukidi : “ Astaghfirullah……Munah,Munah….saya ini kangen kamu, lalu saya tanya kamu:

men po ra……”

 

     Ketika masyarakat berharap adanya tokoh berintegritas yang menjadi panutan di negeri ini, tiba-tiba muncullah Mukidi sebagai tokoh virtual yang menggelitik. Dialog tersebut di atas sangat sederhana, namun artikulasi penulisan cerita pas dengan kondisi masyarakat. Terlepas asumsi bahwa cerita Mukidi hanya sekedar guyonan atau sebaliknya ada instrumentasi dengan tujuan pengalihan isu utama, agar masyarakat senang- sesungguhnya cerita Mukidi sudah ada sejak tahun 2012, namun tidak menimbulkan virus tawa massif seperti sekarang. Mungkin ada orang yang dengan sengaja menyebarkan melalui media sosial, sehingga dampaknya luar bisa – ratusan atau ribuan orang dibuat tertawa terpingkal-pinggal setiap hari. Fenomena ini bisa dimaknai bahwa masyarakat membutuhkan hiburan yang murah dan sementara melupakan permasalahan kemiskinan,korupsi dan kesenjangan sosial.

     Memperhatikan adanya isu besar yang dapat menganggu kestabilan politik dan ekonomi dalam negeri, maka Mukidi yang merupakan representasi wong cilik dimunculkan untuk memberi hiburan dan sekaligus mengalihkan isu di ranah publik. Sesungguhnya munculnya tokoh seperti Mukidi bukanlah hal yang baru, seperti halnya tokoh punakawan dalam pewayangan. Munculnya tokoh punakawan disebut dengan goro-goro, makna dibalik goro-goro ialah adanya pergulatan atau permasalahan yang dikelola dengan santai dan penuh canda. Pengelolaan pergulatan politik dan ekonomi yang dikemas dengan candaan yang mewujud dalam Mukidi tersebut bisa sementara mengalihkan perhatian publik terhadap kinerja para pemimpin yang menurun. Apa makna filosofis dibalik fenomena masifnya cerita Mukidi tersebut, sebagai berikut :

     Pertama,tertawa itu ekspresi kejujuran. Charlie Chaplin seorang komedian terkenal pernah berkata : “Satu hari tanpa tertawa adalah hari yang tidak berguna”. Dengan kata lain, kalau kita ingin menemukan makna melakoni hari-harimu: tertawalah. Secara esensi tertawa bermanfaat dalam mewarnai hidup kita. Selain itu tertawa adalah ungkapan kejujuran kita terhadap sesuatu. Semakin kita jujur dengan diri sendiri, maka semakin mudah kita tertawa. Dengan kita mudah tertawa, maka syaraf kita menstimuli hormon dalam otak kita, yang berdampak rasa senang dan bahagia. Dalam kondisi senang dan bahagia tersebut, maka pikiran,perasaan dan jiwa kita juga ikut merasakannya. Bukan hanya itu, rasa senang dan bahagia tersebut juga berdampak pada raga kita yang sehat dan prima.

    Kedua, tertawa itu melepas keresahan. Tertawa yang orisinil itu muncul karena keresahan terhadap pergulatan kondisi pribadi dan lingkungan. Semakin kita resah terhadap situasi dan kondisi, hal ini berpotensi semakin orisinil kita akan mentertawakannya kelak. Kerena keresahan terhadap ketimpangan dan ketermajinalan di masyarakat dapat menstimuli para komedian mengartikulasikannya dalam bentuk tulisan atau cerita satire yang lucu. Melalui keresahan, sang komedian mentransformasi menjadi candaan yang apik tanpa menimbulkan ketersingungan.

    Ketiga, tertawa itu perlawanan atau pengalihan isu (?). Melalui cerita satire, sang komedian mengadakan perlawanan terhadap rejim yang korup dan tidak adil. Melalui cerita satire, dia menginspirasi orang lain untuk mentertawakan diri. Sebaliknya oleh elite politik bentuk perlawanan ini bisa ditransformasi untuk pengalihan isu utama. Oleh elite, cerita satire bisa diinstrumentasi menjadi hiburan masyarakat dan mencegah mereka tidak melawan sang penguasa, karena kinerja yang buruk.

    Dengan demikian tertawa bisa dimaknai sebagai obat jiwa yang menyehatkan dan membahagiakan. Karena melalui tertawa kita bisa melepas keresahan dan jujur dengan diri sendiri dan orang lain. Namun tertawa juga bisa diinstrumentasi sebagai oleh elite politik untuk mengalihkan kepedihan masyarakat dengan tertawa yang sendu. Marilah kita tertawa dengan jujur (Dr.Guno Tri Tjahjoko)

 

Yogyakarta, 1 September 2016

(telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat,5 September 2016)

Sun, 9 Oct 2016 @22:54


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+5+2

Copyright © 2017 Dooweek 083867404015 · All Rights Reserved