RSS Feed
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

English

 

Visitor

Customer Service

Song of Birds

Mau Dibawa Kemana Jejaring Sosial Anda ?

Analisis Vol.I/No.7 /Oktober 2011


Guno Tri Tjahjoko
www.digitaleadership.biz

Pada suatu hari rekan saya Asep mengajak makan siang di sekitar jalan Kaliurang, Yogyakarta. Pada saat makan siang saya melihat dua orang staf perusahaan AC dari Semarang sedang makan kikil dan rendang dengan lahap. Saya ikut tergoda juga untuk makan lahap. Namun saya sudah berhenti makan daging hampir delapan tahun ini, sehingga saya hanya cukup puas dengan makan nasi telur,tahu dan tempe. Selesai makan saya berkenalan dan ngobrol dengan salah seorang karyawan tersebut. "Lagi ada proyek apa mas di Yogya ?" tanya saya ingin tahu."Oh, kami lagi ada proyek pemasangan AC di kampus". "Wah,mantap dong...dapat proyek besar, berapa sih harga satu AC ?" Dalam hati saya berpikir lumayan juga kalau bisa berhasil tender AC di kampus, paling tidak sepuluh AC laku jual salam sehari. Kalau harga satu AC dua juta rupiah, maka sehari dapat uang dua puluh juta rupiah. Kerja ringan dan uang besar dalam sehari. Lalu teman saya Asep menyela "Luar biasa....baru kenal lima menit saja sudah bisa masuk ke pembicaraan bisnis. Saya kok sulit bicara seperti itu ya....?.Bagaimana caranya membangun relasi dengan orang lain ?"


     Saya sendiri tertegun dengan pertanyaan Asep, karena hal ini biasa saya lakukan kalau bertemu dengan orang lain. Lalu saya menjawab begini : " Kalau kita ingin membangun relasi dengan orang lain landasi dengan kejujuran dan ketulusan" Dengan adanya kejujuran dalam kita mengungkapkan diri, maka akan mengalir juga respon yang jujur dari orang lain. Sekalipun orang tersebut baru kita kenal dan temui pada hari itu. Tampaknya prinsip kejujuran dan ketulusan dalam menjalin jejaring sosialmenjadi dasar yang kokoh. Pertanyaan kritis yang patut kita ajukan ialah apakah mungkin dalam dunia virtual kita juga menerapkan kejujuran dan ketulusan ? Saya berargumen bahwa membangun jejaring sosial baik dalam dunia virtual atau dunia nyata berarti kita menginginkan orang lain mengetahui siapa diri kita, apa yang kita pikirkan dan apa yang kita lakukan. Oleh karena itu kejujuran dan ketulusan menjadi kualitas utama dalam merajut jejaring sosial yang tidak dapat ditawar lagi.


Apa citra (lebel) diri anda ?


    Saya pernah memasang foto profil saya bersama patung monyet besar, lalu teman-teman saya memberi komentar : "Ini kayak sebelahnya". Oh, jadi kalau saya pasang profil monyet, maka rekan saya bisa menafsirkan saya kayak monyet. Lalu saya ganti profil foto saya dengan Superman yang mengangkat becak. Foto ini saya dapat waktu saya dan keluarga rekreasi ke Jatim Park. Sewaktu foto ini menghiasi profil saya juga ada yang berkomentar : "Ini temannya Robin, mana Batmannya ?" Saya sepertinya tidak percaya diri dengan foto tersebut. Pada mulanya hanya sekedar unduh foto dan tidak ada maksud apa-apa, tetapi ternyata hal ini menimbulkan citra yang kurang baik bagi orang lain. Mungkin untuk anak muda ini hanya sekedar iseng atau sekedar narsis.
    Lalu saya ganti profil foto saya dengan yang sekarang anda lihat. Saya secara serius menggarapnya dengan mendatangi studio foto dan meminta fotographer mengambil beberapa gambar dan meminta mereka mengeditnya. Foto profil ini menjadi semacam ‘brand' yang akan saya kembangkan dan hal ini bersamaan dengan upaya saya merintis bisnis online. Ide foto ini saya dapat dari gaya Bill Gates yang santai, tetapi tetap profesional. Saya ingin mencitrakan diri sebagai konsultan yang profesional, berintegritas dan tuntas dan saya menyingkatnya dengan akronim PRO IT. Tampaknya citra diri yang saya akan bangun tersebut menjiwai nilai-nilai dalam saya menerapkan bisnis. Jadi membangun citra diri dalam bentuk foto bukan hanya sekedar unduh foto, tetapi ada filosofi dibaliknya,yakni :


    Pertama, kualitas citra diri yang ingin kita tampilkan menjadi daya tarik orang lain untuk berteman dengan anda. Kalau saya mencitrakan diri saya dengan gambar disamping saya monyet, maka bisa anda bayangkan siapa saja yang akan menjadi rekan saya dalam berjejaring sosial dan berbisnis. Atau saya mencitrakan diri sebagai Superman, maka teman saya Spiderman,Robin,Hulk,Catwomen dan seterusnya.Oleh karena itu citra diri yang akan kita bangun itu seperti brand dalam perusahaan,misalnya: orang bicara motor langsung imajinya ke Honda dan Yamaha, orang membicarakan prosesor komputer imajinya langsung ke Intel, padahal ada AMD, orang membicarakan kota pendidikan di Indonesia imaji mereka lagsung ke Yogyakarta, padahal kota pendidikan ada juga dikota lain. Oleh karena itu tampilan foto anda adalah ‘brand' yang anda akan tampilkan dalam berjejaring sosial, sehingga orang lain mengenal anda sebagai pribadi yang berkarakter dan dapat dipercaya.


   Kedua, kualitas citra diri anda terindikasi dengan adanya kejujuran, ketulusan, kerendahan hati dan kemurahan hati. Daya tarik dalam berjejaring sosial dan juga dalam persahabatan adalah kejujuran dan ketulusan. Kita berjejaring dasarnya apa ? Kalau dasarnya kejujuran dan ketulusan dalam berjejaring, maka kita tidak akan dimanipulasi atau ditipu. Dengan dasar kejujuran, kita bisa mengungkapkan apa yang kita pikirkan, tuliskan dan lakukan apa adanya. Kekuatan kejujuran itu seperti magnet yang memengaruhi orang lain tertarik menjalin jejaring sosial dengan kita. Tampaknya pengguna jejaring sosial di Indonesia perlu mempersiapkan mental dan dirinya, agar efektif dan menjadi daya tarik bagi yang lain. Selain itu hendaknya dalam berjejaring sosial terjadi komunikasi dua arah dan relasi yang dinamis dan kontinyu. Sebaiknya relasi bisa dirajut bukan hanya satu atau dua tahun, melainkan relasi tersebut kita kembangkan dalam jangka penjang.


    Ketiga, kualitas diri menjadi perekat jejaring sosial. Banyak rekan yang saya temui mengabaikan pentingnya kualitas diri sebagai faktor perekat. Hal ini dapat ditengarai dari setiap opini yang dituliskannya yang kesannya asal-asalan atau hanya sekedar curhat. Saya bisa memaklumi, karena mereka menggunakan jejaring sosial hanya sekedar narsis, pertemanan biasa atau tempat curhat. Setelah itu tidak ada lagi, tujuan yang jelas mau dibawa kemana jejaring sosial yang telah dirajut. Sebenarnya esensi jejaring sosial ditentukan oleh terbentuknya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dan hal ini dapat dipelihara dalam tempo jangka panjang, Faktor kualitas kejujuran,ketulusan dan saling menghargai menjadi kata kunci untuk rajutan jejaring sosial dalam jangka panjang tsb. 


Apa yang ingin diketahui orang lain tentang kita ?


   Dalam membangun jejaring sosial, khususnya dalam dunia virtual, orang lain (rekan) ingin tahu siapa diri kita yang sebenarnya. Mereka juga ingin tahu apakah kita sudah punya pacar atau belum (?). Apakah kita sudah berkeluarga atau belum ?. Dalam menghadapi orang yang iseng, maka sebaiknua kita sejak awal sudah tegas menunjukkan diri kita yang sebenarnya. Jatidiri kita dapat diketahui dari apa yang kita kerjakan. Kita bisa menceritakan apa yang kita pikirkan, rasakan dan kerjakan secara jujur. Kalau kita tidak dengan tegas sejak awal merumuskan jati diri kita, maka godaan terhadap orang yang iseng akan mudah muncul. Rumuskan jati diri anda dengan kalimat yang sederhana, saya merumuskan jati diri saya dengan kalimat: "Quality is Our Dignity". Orientasi saya pada membangun kualitas manusia Indonesia yang berkualitas dan bermartabat. Saya berharap orang mengenal saya melalui karya yang menjadikan hidup orang berkualitas dan bermartabat. Saya menjabarkan visi tersebut dengan melatih banyak orang, khususnya pada bidang kepemimpinan, manajemen,motivasi dan pegiat lingkungan hidup. Kalau saya ditanya orang apa pekerjaan anda ? Saya akan menjawab : "Pekerjaan saya ialah mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas dan bermartabat"


Apakah saya dapat dipercaya ?

 

    Salah satu teman saya dalam dunia virtual senang menggunakan nama samaran dan gambar artis cantik. Lalu saya beri saran kepada dia, untuk mengubah foto profilenya dan menampilkan diri dengan apa adanya. Yang menjadikan saya heran, dia ternyata juga punya bisnis online. Lalu saya bertanya padanya : "Bagaimana orang lain percaya dengan bisnis kita, kalau dari segi penampilan profil saja kita sudah tidak jujur ?" Teman saya diam dan tidak bisa menjawab. Masalah kepercayaan orang lain ini menjadi krusial, karena kalau kita tidak dipercaya oleh orang lain, maka kita akan ‘dikucilkan' dan tidak dapat berjejaring dengan efektif.
   Dalam komunitas jejaring sosial yang saya ikuti pernah ada kejadian salah satu anggota kami memaki-maki anggota lain melalui FB, langsung moderator mengeluarkan dia dari komunitas dan dia tidak akan diterima dalam komunitas yang anggotanya lebih dari seribu lima ratus orang. Resep untuk orang lain percaya terhadap kita ialah tergantung dari diri kita, apakah kita mau jujur dengan apa yang kita tampilkan, tulis dan lakukan. Logika untuk menjelaskan hal ini seperti dalam dunia internet, dimana setiap hari ditemukan lima ribu jenis virus baru yang siap menyerang data dalam komputer anda. Komputer kita membutuhkan antivirus, agar data dalam komputer tidak rusak atau hilang. Demikian juga dalam dunia maya diperlukan kepercayaan, agar orang lain merasa aman dan nyaman berkomunikasi dengan kita. Mereka membutuhkan jaminan bahwa bersahabat dengan kita itu ‘safe', dan sudah dilengkapi dengan ‘antivirus', sehingga mereka tidak takut akan dimanipulasi atau dirugikan dalam berjejaring.


Apa cerita yang menarik dari saya ?


    Setelah orang tahu jati diri kita dan kita dapat dipercaya, apa yang menarik dari diri kita yang dapat kita ceritakan ?. Pada umumnya orang suka menyampaikan keluhan atau curhat yang dialaminya setiap hari. Bagi kaum wanita karir mungkin akan kebih menarik kalau cerita tentang bagaimana mengembangkan karir, tetapi sebaliknya bagi ibu rumah tangga pada umumnya cerita tentang kuliner, membina anak, curhat, isu selebritis dan solusi masalah rumah tangga akan menarik pembicaraan. Sedangkan kaum pria lebih senang cerita tentang sepakbola, politik, hidup sukses dan opini terhadap realita sehari-hari. Sejauh yang saya pantau melalui jaringan prosentasi kaum pria lebih kecil dalam curhat masalah sehari-hari, tetapi sebaliknya kaum wanita lebih senang curhat tentang apa yang dialaminya.
   Dengan memahami kesukaan rekan bicara kita atau kekhususan komunitas yang kita ikuti, maka kita tinggal menyesuaikan apa yang kita pikirkan dengan rekan jejaring sosial. Kalau kita berkomunikasi dengan kaum wanita, maka sentuhan rasa itu akan lebih menarik,misalnya anda menceriterakan tentang pengalaman sulitnya mengatur anak. Gaya bahasa yang anda gunakan sebaiknya kalimat positif, misalnya : "Saya bersyukur anak saya sulit diatur, mungkin dulu saya juga sulit diatur oleh orang tua...bagaimana pendapat anda ?" Kalimat tanya pada bagian akhir ini akan memancing rekan lain untuk berkomentar dan ngobrol untuk mendapatkan solusi yang berguna dalam membina anak.
   Saya pernah chatting dengan rekan pendukung Menchester United, sedangkan saya pendukung Barcelona. Rekan saya kirim pesan : "Pasti yang menang MU, 2-0...sudah dukung aja MU,bos..." Lalu saya balas dengan pesan : "Pasti yang menang Barcelona, 1-0....." Dan ternyata benar yang menang Barcelona, dan bagaimana membuat teman saya tidak tersinggung dalam hal ini. Lalu saya kirim pesan dihari berikutnya :"Memang Barca bisa kalah dengan MU, tetapi kita tetap bersaudara.....". Dari chatting tentang sepakbola tersebut saya menjadi dekat dengannya dan sebaliknya. Upayakan dalam berjejaring sosial, emosi kita dapat dikendalikan dan selalu gunakan kalimat positif. Hal ini akan membantu citra yang sudah kita bangun dan menjaga orang lain respek terhadap diri kita.

Apakah saya dapat membantu ?


    Saya pernah menerima pesan melalui jejaring sosial begini : "Pak, tolong bantu kami melunasi kontrak rumah". Ada juga yang mengirim via chatting : "Bos, bagi-bagi duit dong ke kita..." Saran saya dalam membangun jejaring sosial hindari permintaan uang atau dana dengan dalih apapun, karena hal ini akan merusak citra persahabatan dan citra positif yang sedang kita kembangkan.
Memang dalam berjejaring sosial ada semacam kaidah yang tidak tertulis apakah kita siap membantu teman baik diminta atau tidak. Menurut pengamatan saya terhadap tiga ratus rekan dalam jejaring, sepertinya mereka lebih senang mengungkapkan pikiran sendiri dan seolah tidak mau tahu dengan status rekan lain. Berjejaring seperti ini cenderung membangun komunikasi satu arah dan tidak akan membawa relasi dua arah yang saling menguntungkan. Padahal untuk menjaga relasi antar rekan dalam jejaring faktor saling membantu dalam kesulitan bisa menjadi perekat dalam persahabatan.
    Oleh karena itu diperlukan perubahan paradigma dalam berjejaring baik secara virtual dan sosial. Sebaiknya kita lebih banyak mendengar dan memperhatikan rekan jejaring dan baru memberikan pendapat atau cerita. Sepertinya ada kecenderungan yang egois untuk kita terus bercerita tanpa memedulikan orang lain. Dalam konteks apakah saya dapat membantu anggota jejaring, ada baiknya sikap empati, memperhatikan dan sigap dalam membantu orang lain menjadi prioritas. Bentuk konkret membantu rekan dalam jejaring sosial ialah kita memberikan perhatian, memberikan informasi, solusi, memberi semangat dan menghibur. Bantuan yang lebih konkret lagi dapat diwujudkan dalam penggarapan proyek bersama, misalnya : saya membutuhkan masukan untuk penggarapan lingkungan hidup di tambang Batubara, lalu saya kontak rekan yang ahli dalam bidang lingkungan dan mereka berespon positif terhadap proyek yang akan saya kerjakan. Selain itu saya juga pernah meminta informasi tentang tablet komputer apa yang bagus dan harga terjangkau. Dalam hitungan detik komunitas dimana saya bergabung memberikan informasi tentang tablet komputer yang bagus dengan harga bersaing. Bahkan mereka mengundang saya dalam pertemuan dua bulanan untuk membahas isu teknologi komputer terkini.

   Secara prinsip, dalam berjejaring kita membutuhkan bela rasa atau empati dan sigap dalam membantu baik secara langsung atau tidak langsung. Dengan adanya kesiapan bagi kita untuk membantu, maka relasi kita akan bertumbuh dan banyak orang yang respek terhadap kita. Coba pikirkan, kalau anggota jejaring berjumlah seribu orang semua ‘egois' hanya curhat atau mengungkapkan opininya dan tidak ada yang berespons, maka kata-kata yang tertulis akan sia-sia dan menjadi tumpukan sampah. Memang mengubah paradigma dari suka curhat atau membagikan opini ke kebiasaan menjadi pembaca dan pemberi komentar tidaklah mudah. Pengamatan saya terhadap tiga ratus anggota dalam jejaring, menunjukkan hanya sekitar satu prosen saja. Artinya sembilan puluh sembilan prosen anggota jejaring senang curhat atau membagikan opininya setiap hari tanpa membangun relasi dengan orang lain. Nah,silahkan anda tentukan sendiri, anda tipe yang mana ? Kalau jejaring anda ingin berkembang dan langgeng, maka tidak mungkin bagi anda untuk egois dan hanya mau didengar. Sebaliknya, belajarlah rendah hati dengan mulai mendengar, memperhatikan dan memberikan solusi yang konkret atau pemberi semangat dalam hidup.


Kesimpulan


   Mau dibawa kemana jejaring sosial anda ? Jawaban atas pertanyaan ini ialah bergantung pada bagaimana anda menampilkan citra diri. Orang lain ingin tahu apa yang anda pikirkan, rasakan dan lakukan. Mereka ingin tahu apakah anda memiliki visi yang jelas atau tidak. Mereka ingin melihat apakah anda orang yang jujur dan tulus yang dapat diajak berjejaring. Oleh karena itu pewujudan citra diri merupakan brand anda untuk dikenal orang lain. Apakah brand yang anda kembangkan dapat dipercaya ? Apakah brand anda menarik bagi orang lain ? Seorang yang memiliki visi dan brand yang jelas dia tahu mau dibawa kemana jejaring sosial yang dimilikinya. Semoga jejaring sosial anda bisa bertahan dalam tempo jangka panjang dan menjadikan hidup anda semakin berkualitas dan sukses.


kaki Merapi, 19 Oktober 2011

 

Wed, 19 Oct 2011 @23:10


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+0+4

Copyright © 2017 Dooweek 083867404015 · All Rights Reserved