RSS Feed
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

English

 

Visitor

Customer Service

Song of Birds

How to Motivate Employees

                                                              Analisis Vol.I/No.8 /November 2011


Guno Tri Tjahjoko
www.digitaleadership.biz

"Motivasi adalah perihal mengolah modal kemanusiaan anda. Tantangannya terletak tidak dalam kerja itu sendiri, tapi dalam diri anda, pribadi yang menciptakan dan mengolah lingkungan kerja" Anne Bruce


Perusahaan besar biasanya ditandai dengan besarnya jumlah staf dan kuatnya keuangan mereka. Perusahaan besar senantiasa menjadi daya tarik bagi para sarjana atau pencari kerja untuk melamar menjadi karyawan. Daya tarik perusahaan besar seperti magnet yang memikat siapapun yang membutuhkan tantangan karir dan iming-iming gaji yang besar. Namun perusahaan besar juga diperhadapkan dengan suatu masalah, yakni bagaimana ‘mengelola staf' untuk memiliki disiplin atau etos kerja yang sesuai dengan budaya kerja perusahaan.
    Tampaknya ada kesenjangan antara keinginan menjadi staf yang mendorong mereka bekerja dalam perusahaan untuk mendapatkan gaji yang besar dan kebijakan perusahaan. Kebijakan perusahaan justru menerapkan sistem penggajian sesuai yang diatur oleh Pemerintah dan kalau bisa seminim mungkin menggaji staf. Masalah kemudian muncul, karena adanya dua kepentingan yang berbeda yang tidak dapat dipertemukan. Hal ini terbukti dengan maraknya demo buruh di Timika dan Batam yang bemuara pada tidak terakomodasinya kepentingan karyawan oleh perusahaan. Beberapa keluhan staf perusahaan yang saya dengar pada waktu menjadi instruktur di BUMN, sebagai berikut :
"Saya sudah bekerja dua puluh tahun, namun belum diangkat sebagai pegawai. Padahal saya sudah mencurahkan tenaga saya sepenuhnya untuk perusahaan, mengapa saya belum diangkat menjadi pegawai tetap ? Istri saya meminta untuk pindah pekerjaan, namun saya masih ragu...?"
" Saya sudah bekerja sepuluh tahun, gaji saya kenaikannya tidak banyak, gaji saya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari...."
"Saya ditempatkan di hutan, dari pagi sampai sore saya hanya bekerja di laboratorium... Sebulan sekali saya pulang ketemu anak dan isteri.....gaji saya hanya cukup untuk makan...."
"Saya kecewa bekerja di perusahaan ini, karena tidak seperti yang saya bayangkan dulu....Saya berharap dulu sebelum bekerja disini, gaji saya besar dan bisa memenuhi kebutuhan keluarga....."
"Saya bekerja di perusahaan seperti ‘mesin', pagi masuk kerja, absen sore hari lalu pulang demikian saya lakukan setiap hari...."
"Saya bekerja digaji dan diberi tunjangan pada saat ini, namun setelah pensiun kami tidak mendapatkan tunjangan apa-apa.....Saya menjadi seperti tidak berarti setelah pensiun....."


Hilangnya motivasi kerja


    Lemahnya motivasi kerja staf sering terjadi, karena adanya keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan kebijakan perusahaan. Kalau anda bekerja hanya untuk mendapatka gaji, hal itu wajar karena anda sudah meluangkan waktu dan kerja keras setiap hari. Dalam hal ini perusahaan ‘membayar fisik' anda, karena telah datang ke kantor dan bekerja. Namun kebutuhan manusia bukan hanya ‘fisik' saja, dalam diri manusia ada pikiran, jiwa/perasaan dan roh yang tidak cukup hanya dibayar dengan uang. Mengabaikan salah satu kebutuhan manusia (staf) tersebut akan berdampak pada karyawan kehilangan motivasi,misalnya: anda dibayar Rp. 10 juta per bulan, namun anda tidak pernah diajak untuk menyumbangkan pikiran dalam mengambil keputusan yang penting di bidang anda. Kalau anda normal, pasti anda akan tersinggung dan marah-marah, karena merasa tidak dihargai atau ‘tidak dimanusiakan'.
    Sebaliknya misalnya anda digaji hanya Rp. 5 juta per bulan, namun anda dituntut mengambil keputusan dengan nilai sebesar Rp. 5 miliar. Itu artinya anda harus bekerja ekstra keras yang melebihi kapasitas anda. Tentu anda akan merasa ‘dilecehkan', karena kemampuan anda hanya dihargai kecil, dibandingkan dengan pekerjaan yang besar yang anda lakukan.
Kelemahan perusahaan besar dengan jumlah karyawan yang banyak ialah kurangnya perhatian secara personal terhadap staf dan sepertinya ada kecenderungan ‘kemanusiaan' mereka digantikan dengan target bulanan dan angka untuk menggantikan identitas pribadinya. Nilai harga diri staf sepertinya tergantikan dengan tercapainya target penjualan dan besarnya produksi setiap tahun. Tidak ada lagi perhatian yang tulus dan manusiawi terhadap staf sebagai manusia secara utuh.
   Oleh karena cara pandang manajer atau perusahaan dalam memahami staf hanya sebatas target penjualan dan berupa angka, maka karyawan menjadi ogah-ogahan untuk bekerja yang pada gilirannya mereka akan kehilangan motivasi kerja. Mereka tidak peduli dengan target perusahaan yang membuat stres dan ‘menjauhkan' dari harapan untuk mendapatkan kenaikan gaji.


Menemukan motivasi dalam diri anda


   Bekerja adalah suatu pilihan bagi anda, dimana anda yang memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan baik itu swasta, BUMN, bahkan menjadi pegawai negeri. Dalam hal ini kalau anda memutuskan bekerja untuk perusahaan, namun tidak didasarkan pada passion, maka anda akan mudah kehilangan motivasi. Passion dalam bahasa Latin berarti suffer (menderita), namun kata passion ini bisa berarti juga antusias atau sesuatu yang membuat kita terus bersemangat. Passion inilah yang menjadi energi motivasi dalam diri anda untuk terus semangat bekerja.
   Saya menganalogikan kata passion dalam diri saya seperti seorang anak yang senang bermain. Dunia anak adalah dunia bermain. Tiada hari tanpa bermain bagi seorang anak. Saya perhatikan anak-anak suka bermain, dan bermain bagi mereka adalah hal yang serius. Kalau acara bermain diganggu dengan ‘belajar', pasti mereka akan marah. Oleh karena itu motivasi kita bekerja hendaklah dilandasi dengan rasa senang bukan semata-mata untuk mengejar uang, namun seperti halnya kita bermain pada waktu anak-anak. Dengan rasa penuh senang dalam kita bekerja, maka kesuksesan akan mengikuti kita.
   Menurut kamus Oxford Dictionary kata motivation bermakna ‘reasons for doing something', ‘desire to do something' atau ‘enthusiasm'. Motivasi adalah sesuatu yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu dengan alasan yang jelas. Anda bekerja, alasannya untuk membahagiakan keluarga, bukan ? Dengan pemahaman tentang kata motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu dengan penuh semangat dan jelas tujuannya, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak termotovasi dalam bekerja. Mengapa ada kecenderungan di era informasi ini staf kehilangan motivasi kerja ? John Nasibitt dalam Mind Set ( 2009:147-148) menuliskan sebagai berikut :
"Di kebanyakan perusahaan, skala manusia tersingkirkan selama era industri. Kini kita kembali ke skala manusia. Dengan jumlah karyawan di satu pabrik - atau kantor kurang dari 200 orang. Semua orang dapat saling mengenal. Semua orang kini dapat mengetahui kontribusi apa yang dapat diberikan masing-masing bagi keseluruhan komunitas. Ini kebalikan dari periode industri di mana sebuah pabrik dapat berisi 5000 pekerja. Skala manusia yang tepat memberi kita efisiensi dan kemungkinan berkembangnya kreativitas"

    Apa yang dituliskan oleh Naisbitt tersebut memberikan penegasan bahwa dalam era industri dan era informasi ada kecenderungan perhatian terhadap kemanusiaan cenderung berkurang. Perusahaan yang menampung karyawan lebih dari 200 orang akan cenderung berdampak relasi antar karyawan berkurang. Perhatian manajer kepada karyawan pun juga cenderung kurang, sehingga memicu lemahnya motivasi dalam diri karyawan. Dengan adanya perhatian kepada karyawan sebagai manusia yang utuh, maka kreativitas dan motivasi kerja akan tumbuh secara alami.
Dengan demikian motivasi kerja yang utama itu ada dalam diri anda, bukan karena pengaruh faktor eksternal saja. Kalau anda tidak mampu membangkitkan rasa senang dan semangat dalam bekerja, itu artinya anda sudah kehilangan motivasi dalam bekerja. Cara yang terbaik untuk menemukan motivasi kerja dalam diri anda ialah dengan mengajukan beberapa pertanyaan, sebagai berikut :


1. Apakah saya senang dengan pekerjaan sekarang ini ?
2. Apakah pekerjaan saya menjadikan diri saya lebih sejahtera dan baik ?
3. Apakah pekerjaan saya bermanfaat bagi banyak orang ?
4. Apakah melalui pekerjaan ini karir saya berkembang ?
5. Apakah saya siap untuk diberhentikan setiap saat ?


Kalau jawaban anda Ya semua, maka tidak ada masalah dengan motivasi anda dalam bekerja. Tetapi bila ada satu saja jawaban anda yang Tidak atau anda menjawab ragu-ragu, maka ada kemungkinan anda akan mengalami penurunan motivasi dalam bekerja.


Dua pemicu motivasi bekerja


"Ada dua hal yang memotivasi seseorang untuk bisa sukses, yakni : (1) inspirasi dan (2) putus asa" Anthony Robbins.

    Kalimat tersebut diatas diungkapkan oleh motivator terkemuka, setelah dia berhasil menaklukkan pergumulan hidup yang keras di Amerika. Dia harus bekerja sebagai pekerja kasar untuk mencukupkan hidup sehari-hari dan setelah mengalami krisis dan putus asa - dia berhasil menang. Keluhan-keluhan staf tersebut diatas belumlah sampai pada titik putus asa. Pada umumnya keluhan staf tersebut di atas masih sebatas pada ketidaknyamanan atau ketidakpuasan terhadap penggajian perusahaan. Kalau kita belum pernah menghadapi dan mengalami rasanya putus asa, maka kita belum pernah akan merasakan ‘sukses dengan nikmat.' Kita perlu menjadikan rasa putus asa sebagai mitra untuk mendorong motivasi dalam diri. Rasa putus asa itu seperti palu yang memukul kita berkali-kali, sehingga menjadikan kita lebih tahan banting, arif dan tajam dalam mensikapi pergumulan hidup.
    Memperhatikan keluhan para staf tersebut di atas sebenarnya inti masalahnya pada ketidakpuasan gaji yang diterima dan hilangnya passion dalam bekerja. Dalam kondisi kerja dimana gaji tidak mencukupi kebutuhan kita sehari-hari, maka wajar akan terjadinya keluh kesah staf yang dapat diinstrumentasi oleh provokator untuk melakukan tindak anarki. Selain itu keluh kesah yang dibiarkan mengendap dalam batin kita berminggu-minggu akan berakibat pada gangguan pada fisik: maag,stress dan sulit tidur. Rasa putus asa akan muncul kemudian setelah keluhan-keluhan mengendap sekian lama dalam batin kita. Rasa putus asa ditandai dengan kurang adanya gairah dalam kerja, nafsu makan menurun atau sebaliknya makan yang berlebihan. Pikiran tidak fokus atau tidak terkendali, mudah tersinggung dan sulit mendengarkan orang lain.
   Untuk mengatasi masalah motivasi dalam diri staf,ada dua cara, yakni: Pertama, staf dikondisikan putus asa. Hal ini dilakukan untuk memberikan terapi bagi pekerja tipe away from. Mereka bisa termotivasi kerja, kalau ada ancaman atau ultimatum dari manajer atau atasan. Cara untuk merekayasa rasa putus asa para staf dengan diberikan ultimatum terapi, sebagai berikut :
"Kalau anda tidak mencapai target bulan ini, anda akan dipecat....!"
"Kalau anda tidak mampu disiplin dalam kerja, maka gaji anda akan dipotong
50%....!"
"Kalau anda tidak mampu bekerja keras, silahkan sekarang mengundurkan diri
saja...!"
"Kalau anda tidak bisa bekerjasama, silahkan pindah kantor.....!"
"Kalau anda tidak kerja keras, anda akan mati besok, karena besok tidak ada
makanan...!"

    Kalimat yang tajam dan keras perlu disampaikan kepada mereka yang benar-benar sulit diatur dan tidak ada motivasi bekerja. Pengondisian rasa putus asa ini diperlukan untuk memunculkan motivasi kerja dalam diri staf. Bagi mereka yang bertemperamen dominan melankolis atau plegmatis (introvert) hal ini akan efektif memacu semangat kerja mereka. Tetapi sebaliknya bagi mereka yang dominan bertemperamen kolerik atau sanguinis dengan adanya ancaman, mereka cenderung kurang peduli. Jadi motivasi staf dapat dimunculkan dengan adanya pengondisian rasa putus asa dan hal ini efektif untuk mereka yang introvert.
   Kedua, motivasi dalam diri staf dapat dipicu dengan adanya bonus. Pemberian bonus ini tepat untuk staf dengan tipe toward. Staf akan termotivasi bekerja keras untuk mencapai target, karena ada bonus yang akan didapatkan pada akhir tahun.Tipe pekerja yang suka bonus ini tidak akan mempan dengan ancaman pemecatan. Mereka ini cenderung dominan bertemperamen sanguinis atau koleris (ekstrovert). Mereka akan cenderung bekerja keras,bila ada iming-iming uang, motor,mobil,rumah dan jaminan kesejahteraan yang jelas. Sebaliknya tipe staf away from tidak peduli dengan adanya bonus, mereka membutuhkan relasi yang harmonis dan suasana kantor yang menyenangkan. Sebaliknya tipe staf toward, mereka membutuhkan tantangan dan penghargaan yang konkret terhadap prestasi yang mereka kerjakan.


Kesimpulan


  Motivasi kerja sebenarnya ada dalam diri kita, hanya kita tidak tahu bagaimana mengelolanya. Motivasi dalam bekerja akan efektif kalau disertai dengan passion yang kuat. Dengan adanya passion dalam bekerja, maka karir kita akan sukses. Untuk mengatasi staf yang kurang motivasi bekerja sebaiknya dilakukan dengan cara pendekatan secara dialogis. Bagi staf yang bertipe away from diperlukan rekayasa putus asa, agar muncul motivasi kerja. Sebaliknya bagi staf dengan tipe toward - berikanlah tantangan dan bonus yang menarik, maka perusahaan anda akan melejit dengan penjualan dan produksi yang dahsyat.


kaki Merapi, 30 November 2011

"Pria dan wanita ingin melakukan pekerjaan yang menarik, pekerjaan yang kreatif, bila mereka disodori lingkungan kerja yang tepat, mereka akan bekerja dengan sebaik-baiknya." Bill Hawlett, pendiri Hawlett Packard

 

 

Wed, 30 Nov 2011 @14:15


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+8+3

Copyright © 2017 Dooweek 083867404015 · All Rights Reserved