RSS Feed
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

English

 

Visitor

Customer Service

Song of Birds

The Truth Is Out There

Analisis Vol.I/No.9 /Januari 2012

Guno Tri Tjahjoko
www.digitaleadership.biz

"Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak,

keselamatan ada"
Proverbs  11:14

Untuk menuliskan artikel ini saya membaca beberapa buku kepemimpinan dan melakukan observasi lapangan, khususnya dalam kehidupan sehari-hari di Yogyakarta. Pada waktu saya kuliah tentang kepemimpinan atau mengikuti seminar kepemimpinan, saya sering memperhatikan para nara sumber mengutip teori kepemimpinan yang sudah lazim, misalnya: the great man theory,trait theory,success leadership, group and exchange theory,situational theory,path goal theory dan seterusnya. Dalam tulisan ini saya mencoba mengesampingkan teori-teori tersebut, khususnya kaitannya dengan penelitian saya yang sedang saya lakukan selama 7 bulan ini. Penelitian saya berangkat dari potret masyarakat, perusahaan, keluarga dan komunitas yang terjadi sehari-hari.

     Pada umumnya orang memahami tentang kepemimpinan atau pemimpin sebagai atasan atau orang yang memiliki jabatan atau pengaruh besar baik secara personal atau komunal. Dia dipersepsi sebagai orang yang berpengaruh, karena memiliki kedudukan atau otoritas tinggi,misalnya dalam perusahaan otoritas tertinggi ada pada pemilik modal terbesar, sedangkan dalam suatu negara pemegang otoritas tertinggi direpresentasikan oleh DPR,MPR,Presiden dan para petinggi negara lainnya. Persepsi saya berbeda dengan apa yang dipersepsi oleh banyak orang.

Redefinisi

    Saya berargumen kepemimpinan adalah suatu potensi dalam hati nurani seseorang yang memancar keluar dan memengaruhi orang lain dalam bentuk perasaan, pemikiran dan tindakan. Kepemimpinan adalah totalitas dalam diri seseorang yang ‘diberikan' kepada orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan menyangkut hati nurani yang tidak lepas dari pikiran dan perasaan. Dengan kata lain kepemimpinan ada dalam diri setiap orang dan tidak terbatas dengan jabatan atau struktur yang dimilikinya. Kepemimpinan yang berbasis pada hati nurani akan berbuahkan semangat, keberanian, ketegaran dan kejujuran. Seorang pemimpin dapat diketahui dari apa yang dilakukannya, apakah dia memberikan inspirasi, semangat dan harapan kepada orang yang dipimpinnya ?

   Untuk membuktikan argumen saya tersebut di atas, saya mencermati tulisan tukang becak yang nama lengkapnya Blasius Haryadi yang sering disebut Harry van Yogya. Saya baru berkenalan dengan Harry sekitar 1 minggu melalui jejaring FB. Saya baca semua tulisan Harry melalui blog yang dia miliki. Salah satu tulisan yang menarik perhatian saya berjudul : "Percakapan TKI dengan SBY" yang diposting pada tanggal 6 Mei 2011, sebagai berikut:


Belum lama ini seorang TKI di Saudi Arabia memberanikan diri menelfon pak SBY, dan inilah
hasil perbincangan mereka.
TKI : Selamat siang pak SBY, apakah bapak sudah mendengar berita tentang Sumiati teman
saya ?
SBY : Sudah, saya sudah mendengarnya
TKI : Wah kami semua jadi takut pak, apakah pak SBY sudah menyiapkan langkah langkah
nyata agar kami semua menjadi merasa aman ?
SBY : Jangan khawatir, saya selaku presiden pasti selalu memikirkan rakyatnya termasuk
para TKI : Keselamatan dan keamanan TKI saya jamin.
TKI : Apa yang akan bapak lakukan ?
SBY : Semua TKI akan saya beri HP
TKI : Lho memangnya ada apa dengan HP pak ?
SBY : HP sangat dibutuhkan demi keselamatan dan keamanan TKI. Bukankah HP itu
Hilangkan Penganiayaan, Hilangkan Pemerkosaan, Hilangkan Pembunuhan....?
TKI : Apakah kami harus beli HP pak ?
SBY : Oh tentu saja tidak, karna HP, Hanya Pemberian dari pemerintah
TKI : Terus uangnya darimana pak ?
SBY : Uangnya dari HP, Hasil Pajak
TKI : Hasil Pajak atau HP, Hasil Pungutan gaji kami pak ?
SBY : Hasil Pajak
TKI : Atau jangan-jangan malah HP Hanya Proyek
SBY : Bukan, HP Hanya Perintah
TKI : Trus HP, Hak Pekerja di mana pak ?
SBY : Ini HP, Hak Pemerintah, jadi HP Harus Patuh
TKI : HP Ha Prex nek ngono

Apa makna dibalik satire ?

   Sebagai wong cilik yang lugu Harry mengemukakan pendapatnya apa adanya tentang Pemerintah yang diidentikkan dengan empat hal, yakni: (1) Hanya Perintah, (2) Hasil Pajak, (3) Harus Patuh dan (4) Hanya Proyek. Pertama, Hanya Perintah merupakan cerminan arogansi penguasa yang biasanya hanya memerintah tanpa memberikan teladan atau solusi konkret untuk menolong masyarakat yang sedang dalam kesulitan. Nasib TKI di luar negeri banyak yang mengalami perlakuan tidak manusiawi, bahkan banyak yang meninggal, Namun ironinya para pejabat cuci tangan dan tidak mau terlibat atau bertanggungjawab terhadap warga negaranya.

    Kedua, Hasil Pajak bagi masyarakat kecil merupakan ‘kewajiban' untuk membayar tanpa harus bertanya bagaimana pertanggungan jawab penggunaan dananya. Saya pernah bertanya kepada petugas pajak : "Apakah saya diberikan laporan pertanggungan jawab atas pajak yang saya bayarkan ?" Jawab petugas pajak : "Ya, bapak kan sudah menikmati pembangunan jalan, sekolah dan sarana yang dibangun dari pemerintah. Itu semua dibangun pake uang yang bapak bayarkan." Saya bertanya lagi : "Apakah saya boleh tahu kemana uang yang saya bayarkan penggunaannya....?" Petugas pajak diam dan tidak bisa menjawab pertanyaan saya tsb.

    Ketiga,Harus Patuh. Dalam konteks membayar pajak atau hal yang berurusan dengan regulasi pemerintah rakyat harus patuh dan tidak boleh bertanya, apalagi menentangnya. Kalau hal ini terjadi pada era Orde Baru, maka istilah HG yang saya plesetkan menjadi "Hanya Gebuk". Artinya siapa saja yang mencoba kritis terhadap pemerintah akan ‘digebug'. Tugasnya rakyat kecil dalam hal ini hanya patuh atau ‘sendika dawuh' (hanya bersedia melakukan apa saja yang diperintahkan)

    Keempat, Hanya Proyek. Baru-baru ini teman saya ditelpon oleh pejabat Pemda, dia ditawari proyek penelitian. Teman saya mengeluhkan adanya pemotongan dana yang mencapai 30 % dari dana yang seharusnya dia terima. Menurut teman saya hampir semua dana APBD sudah dibagi-bagi oleh oknum dengan atas nama Proyek Pemda. Rakyat sebagai subyek penerima bantuan atau pemberdayaan hanya mendapatkan sisa-sisa dana. "Hampir di semua Pemda di Indonesia, oknum minta bagian proyek yang besarnya sekitar 20%-40%" kata teman saya. Tidak heran berita di media massa atau elektronik sampai hari ini dipenuhi dengan head line dana proyek yang dimanfaatkan oleh elit politik untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Mental proyek ini mengindikasikan adanya ‘kemiskinan mental ‘ (mental kere) diantara para pejabat negeri ini. Dengan demikian tidak mengherankan pada masa kini kita hanya disuguhi oleh media massa berita tentang korupsi setiap hari. Mereka yang mencuri uang rakyat menunjukkan tidak lagi memiliki amanah rakyat.

Esensi kepemimpinan

   Kalimat yang menarik perhatian saya ada pada bagian terakhir :"HP Ha Prex nek ngono". Mengapa ? Kalimat ini bisa ditafsirkan dari berbagai perspektif, namun saya hanya memaparkan dari perspektif kepemimpinan. Istilah "Ha Prex, nek ngono" mengindikasikan adanya penolakan terhadap kepatuhan yang selama ini melekat dengan diri wong cilik. Dalam pemahaman wong cilik pada umumnya pemerintah itu harus ditaati dan tidak boleh dilawan. Bisa jadi mas Harry dalam menuliskan "Ha Prex, nek ngono" ini bukan hanya sekedar plesetan, namun merupakan bentuk kegundahan terhadap pemerintah yang kurang berpihak pada wong cilik yang selalu menjadi korban kebijakan elit politik.

   Dengan demikian esensi kepemimpinan yang terkandung dalam kalimat "Ha Prex, nek ngono", kalau dalam pemahaman wong cilik ialah "Ngono yo ngono, ning aja ngono" (Jangan semena-mena terhadap wong cilik). Bahwa pemimpin di negeri ini mendapatkan mandat dari rakyat. Artinya mereka itu bisa duduk dalam pemerintahan, karena dipilih langsung oleh rakyat. Namun setelah mereka menjadi pejabat negara, melupakan mandat yang diberikan oleh rakyat, karena itu perintah yang tidak berpihak pada wong cilik ‘harus dicuekin'. Dengan demikian hal ini membenarkan argumen saya tersebut diatas bahwa kepemimpinan itu melampaui struktur. Dalam hati rakyatlah bersemai hati nurani yang bening yang berbuahkan keberanian, kejujuran dan ketegasan. Merekalah sang empunya kedaulatan tertinggi dan hal ini diakui oleh Undang-Undang Dasar dan prinsip demokrasi.

    Pada masa kini wong cilik membutuhkan pemimpin yang berani dan tidak‘mencla-mencle' dalam menegakkan hukum. Keberanian pemimpin tersebut bersumber didalam dirinya, apakah dia memiliki nurani yang bening dan mentalitas yang kokoh. Kalau dia tidak memiliki hati nurani yang bening, maka akan muncul keraguan dan ketidaktegasan dalam pengambilan kebijakan. Keberanian pemimpin juga menunjukkan dia amanah menjalankan tugas yang diberikan oleh rakyat. Kalau dia berani tidak populer, karena kebijakan yang diambilnya dikecam oleh sekelompok orang, namun bermanfaat bagi orang banyak - maka dia menjadi pemimpin yang memberikan kepastian, harapan dan rasa aman yang jelas kepada masyarakat.

  Keberanian berhubungan dengan kejujuran dan ketegasan. Tanpa keberanian menentang arus menyenangkan diri dan orang lain, maka tidak akan ada kejujuran. Keputusan politik sering tidak mengindahkan kejujuran dan ketegasan. Mengapa ? Oleh karena keputusan politik dilatarbelakangi dengan deal antar pemimpin, yang mengakomodasi semua kepentingan kelompok, sehingga tidak akan ada keputusan yang tegas dan jelas. Kejujuran akan mewujud dalam diri pemimpin bersamaan dengan keberanian. Antara keberanian dan kejujuran itu seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Adapun ketegasan adalah manifestasi dari tindakan praktis yang dilakukan oleh pemimpin dalam mengambil kebijakan atau keputusan.

Kesimpulan

  Wong cilik memiliki logika kepemimpinan tersendiri yang tidak ada dalam teori kepemimpinan modern. Mereka menterjemahkan kepemimpinan dengan berkaca pada hati nurani. Artinya kepemimpinan itu bersumber pada nurani bukan pada kedudukan atau jabatan. Dengan demikian kepemimpinan itu ada diluar struktur atau jabatan yang melekat dalam diri manusia. Setiap orang sejak kecil sampai dewasa sesungguhnya memiliki potensi kepemimpinan, namun masalahnya ialah apakah mereka memberdayakan nurani dalam dirinya secara efektif ?.Untuk memberdayakan nurani dalam diri seseorang, hal ini dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, agama dan masyarakat. Apakah pada masa kini kita menemukan kepemimpinan yang memiliki hati nurani di negeri ini ? The truth is out there

kaki Merapi, 28 Januari 2012

 

 

 

Sat, 28 Jan 2012 @19:09


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 8+6+6

Copyright © 2017 Dooweek 083867404015 · All Rights Reserved